Kisah Aba Yadi, Penjaga Makam Raja Ronggosukowati Pamekasan yang Diupah Rp 400.000 Per Bulan

2026-01-12 04:34:36
Kisah Aba Yadi, Penjaga Makam Raja Ronggosukowati Pamekasan yang Diupah Rp 400.000 Per Bulan
PAMEKASAN, - Dari kejauhan, pria memakai sarung dan kaus hitam terlihat sibuk di sudut selatan Pemakaman Ronggo Sukowati di Kelurahan Kolpajung, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.Dia adalah Masriyadi atau dikenal dengan Aba Yadi, juru kunci makam Raja Pertama Pamekasan, Pangeran Ronggosukowati yang wafat pada tahun 1624 silam.Laki-laki berusia 55 tahun itu tampak sibuk meramu cairan warna putih agak pekat."Ini cairan obat pemusnah rumput dan lumut," katanya sambil mempersilakan duduk, Sabtu .Baca juga: Kisah Penjaga Makam di Jombang, Rela Bekerja Larut Malam Meski Tak Memperoleh Gaji TetapDi gubuk yang terbuat dari bambu, Aba Yadi biasa melepas lelah setiap hari. Gubuk itu kurang lebih berukuran 3x3 meter.Bangunannya mulai condong ke arah timur, bahkan sebagian tiang bambu mulai miring."Di sinilah tempat saya selama sepuluh tahun terakhir di lokasi makam," tuturnya.Dengan mata berbinar, ia antusias membuka cerita. Rupanya, juru kunci adalah warisan keluarga dari kakek buyut yang diwariskan ke orangtua.Baca juga: Kisah Jarwo, Bertahan Selama 30 Tahun Jadi Penjaga Makam di SurabayaIa menjadi juru kunci menggantikan pamannya, Nafi sejak meninggal sekitar 10 tahun lalu."Juru kunci ini dari kakek buyut, turun ke kakek lalu ke ayah saya. Setelah orangtua meninggal diganti paman saya," katanya.Sejak tahun 2015, ia diangkat juru kunci oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) waktu itu.Setiap hari ia membersihkan makam Raja Ronggosukowati hingga merawat semua area pemakaman seluas 1 hektare.Badannya harus kuat, setiap hari ia melayani peziarah yang datang. Bahkan, tak mengenal lelah mendampingi penguburan baru setiap waktu."Setiap waktu ada penguburan. Saya harus tahu agar bisa membantu jika ada keluarga dari jauh datang berziarah," katanya.Di lokasi itu, tidak hanya jadi pemakaman keturunan kerajaan, tapi juga untuk masyarakat setempat.


(prf/ega)