Danantara Mau 30 Persen Saham di Tiap Proyek Sampah Jadi Energi

2026-01-12 05:06:28
Danantara Mau 30 Persen Saham di Tiap Proyek Sampah Jadi Energi
JAKARTA, - Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menyebut pihaknya menargetkan memiliki 30 persen saham pada setiap proyek waste to energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi.Pandu mengatakan, pada setiap proyek WTE, nilai kepemilikan saham pemerintah Danantara bisa berbeda-beda.Namun, pihaknya menginginkan pemerintah mengantongi 30 persen kepemilikan saham.Baca juga: Danantara Sebut Proyek Sampah Jadi Energi Tak Ganggu Batu Bara“Jadi kita mungkin setiap proyek bisa beda-beda, we are open. Misalnya nanti technical partner ingin punya saham lebih, kita bilangnya, 'if we can 30 percent paling tidak’,” ujar Pandu dalam media briefing di Kompleks Kantor Danantara, Jakarta, Senin .“Tapi kita happy to take 51 percent or above,” tambahnya.Pandu menegaskan, pemerintah memandang, dalam proyek ini yang terpenting adalah bagaimana WTE bisa menyelesaikan masalah krisis sampah di berbagai kota.Oleh karena itu, Danantara memilih bersikap terbuka dalam penentuan besaran kepemilikan saham di setiap proyek WTE.Pada proyek WTE dengan nilai ekonomi bagus, misalnya, Danantara bisa saja mencoba meminta memiliki 51 persen saham lebih.Sikap itu membuat Danantara dan perusahaan mitra pemerintah nantinya akan duduk bersama guna mencapai kesepakatan.“Kemungkinan karena proyeknya banyak yang baik secara economic return, ada juga yang bisa minta, 'boleh enggak kami 50 persen, 51 persen atau lebih?'” kata Pandu.Menurut Pandu, salah satu aspek penting yang diperhatikan adalah biaya dan ketepatan waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan proyek WTE.Sebab, produk dari WTE itu akan dijual dengan harga yang sama kepada pihak PT Pembangkit Listrik Negara (PLN).Jika ongkos produksi tinggi, maka manfaat ekonomi yang diterima para pihak terkait akan berkurang.Menariknya, kata Pandu, karena pihak swasta sudah mengetahui hitung-hitungan dalam suatu proyek, mereka akan mengerjakannya dengan tepat waktu dan biaya yang pas.“Ini penting kenapa? Karena dengan cara itu anda bisa mendapatkan economic return pasti akan lebih baik kalau bisa on time dan cost-nya juga within the range yang mereka sebut itu penting,” kata dia.


(prf/ega)