Pelabuhan Ciwandan Siapkan 3 Dermaga Hadapi Puncak Mudik Natal-Tahun Baru

2026-02-05 07:12:25
Pelabuhan Ciwandan Siapkan 3 Dermaga Hadapi Puncak Mudik Natal-Tahun Baru
PT Pelindo Regional 2 Banten atau Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, menyiapkan tiga dermaga guna mengantisipasi lonjakan mudik Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. General Manager Pelindo Regional 2 Banten, Benny Ariadi, mengatakan tiga dermaga yang disiapkan meliputi Dermaga 5A, Dermaga 7, dan Dermaga 2."Kami menyiapkan tiga tambatan, namun sampai hari ini baru Dermaga 5A dan Dermaga 7 yang digunakan. Untuk Dermaga 2 belum diaktifkan karena menunggu arahan regulator baik BPTD maupun KSOP," kata Benny dilansir Antara, Selasa (23/12/2025).Kapasitas Dermaga 5A cukup besar, karena dapat digunakan untuk dua tambatan kapal besar sekaligus. Dalam satu kali angkut, kapal tersebut mampu memuat 150 hingga 200 unit truk.Terkait kondisi arus lalu lintas, Benny menyebutkan telah terjadi peningkatan volume kendaraan, khususnya truk golongan VII, sejak Minggu (21/12) malam. Peningkatan ini terjadi karena Pelabuhan Ciwandan difungsikan untuk memecah kepadatan antrean di Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ) Bojonegara."Sejak Minggu malam terasa betul peningkatan arus truk. Ini karena kami mem-backup lonjakan di BBJ, jadi untuk mengantisipasi di sana, kami buka layanan untuk golongan VII di sini," katanya.Selain kesiapan dermaga, Pelindo juga menyediakan dua lokasi kantong parkir (buffer area) untuk kendaraan roda dua dan truk. Area tersebut dilengkapi fasilitas penunjang seperti gerai UMKM, toilet, mushala, hingga layanan kesehatan. Pelabuhan juga membagikan vitamin dan makanan ringan kepada para sopir truk untuk menjaga stamina mereka selama perjalanan."Sesuai prediksi dan rapat koordinasi, tahun ini memang ada peningkatan arus, apalagi kendaraan roda dua (R2) tahun ini mandatori lewat Ciwandan. Namun, Insyaallah lancar, mudah-mudahan alam mendukung," kata Benny.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 06:20