Ketum Muhammadiyah: Setop Perdebatkan Status Kebencanaan

2026-01-12 17:45:53
Ketum Muhammadiyah: Setop Perdebatkan Status Kebencanaan
PURWOKERTO, - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir meminta masyarakat menghentikan perdebatan soal status kebencanaan yang melanda Sumatera dan daerah lainnya.Haedar mengajak seluruh elemen masyarakat lebih baik untuk fokus membantu para korban. Pasalnya, saat ini masih diselimuti suasana duka akibat bencana."Maka Muhammadiyah tanpa mempersoalkan status kebencanaan, karena tiada akhir untuk berdebat," kata Haedar di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin ."Lebih baik kita seluruh kekuatan bangsa bersama pemerintah menyelesaikan penanggulangan darurat bencana," lanjut Haedar.Baca juga: Teddy Sebut Prabowo Kirim Helikopter Pribadi ke Aceh Sejak Pekan Pertama Bencana Menurut Haedar, apabila seluruh elemen bangsa bersatu, proses pemulihan pascabencana akan segera memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.Proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang."Saya yakin kalau kita bersama akan segera masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi yang itu juga panjang. Hal-hal lain yang menyangkut kajian-kajian tentang ekosistem bisa dilakukan setelah ini dalam kajian yang objektif dan ilmiah untuk kebijakan ke depan," ujar Haedar.Haedar menyampaikan, Muhammadiyah telah terlibat langsung dalam penanganan bencana sejak hari pertama banjir terjadi di Sumatera.Selain menyalurkan bantuan kemanusiaan, Muhammadiyah juga terus menggalang dana guna mendukung pemulihan hingga tahap rekonstruksi."Muhammadiyah sejak hari pertama terus menjalankan program-program kemanusiaan dan melakukan pengumpulan dana agar bantuan dapat berlanjut sampai tahap rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Haedar.Baca juga: TNI Kerahkan 89 Alutsista untuk Tangani Bencana Banjir SumateraHaedar menambahkan, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai bencana besar.Seperti tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, gempa Sumatera Barat, hingga gempa Sulawesi Tengah.Pengalaman tersebut, menurut Haedar, menjadi modal penting untuk memperkuat solidaritas nasional."Kita punya pengalaman menghadapi bencana besar. Energi kolektif bangsa ini harus terus dimanfaatkan," ujar Haedar.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-01-12 17:03