WASHINGTON DC, - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan rencana perdamaian untuk Ukraina yang mencakup pemulihan aliran energi Rusia ke Eropa.Selain itu, Trump ingin AS mengucurkan investasi besar-besaran di sektor rare earth atau tanah jarang dan sektor energi Rusia, serta pemanfaatan aset Rusia yang dibekukan.Kabar tersebut pertama kali diwartakan oleh media yang berbasis di AS, Wall Street Journal, mengutip sejumlah sumber.Baca juga: Diskusi 5 Jam Tanpa Hasil, AS-Rusia Gagal Sepakat soal Wilayah UkrainaDalam laporan tersebut, dijelaskan bahwa rencana Trump itu disertakan dalam lampiran proposal perdamaian Ukraina-Rusia.Rencana-rencana itu juga disampaikan kepada sekutu-sekutu AS di Eropa dalam beberapa pekan terakhir, sebagaimana dilansir The Telegraph Online.Dalam rencana tersebut, Trump ingin mengalokasikan dana sebesar 200 miliar dolar AS (Rp 3,3 triliun) dari aset Rusia yang dibekukan untuk proyek-proyek di Ukraina.Dana tersebut akan dipakai untuk membangun data centre atau pusat data besar yang akan didukung oleh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia yang saat ini berada di bawah kendali pasukan Rusia.Baca juga: Gagal Akhiri Perang Ukraina, Trump Sebut Para Pemimpin Eropa LemahSelain itu, perusahaan-perusahaan AS direncanakan untuk berinvestasi di sektor-sektor strategis Rusia, seperti ekstraksi tanah jarang dan pengeboran minyak di Arktik. Pemulihan aliran energi Rusia ke Eropa Barat dan dunia juga menjadi bagian dari rencana tersebut.Sumber yang berbicara kepada Wall Street Journal itu membandingkan kesepakatan energi AS-Rusia yang diusulkan dengan versi ekonomi dari Konferensi Yalta 1945.Baca juga: AS Maraton Damaikan Rusia-Ukraina, dari Moskwa Langung Rapat di MiamiDalam konferensi itu, Uni Soviet, AS, dan Inggris membagi pengaruh mereka di Eropa pasca-Perang Dunia II.Perang Rusia-Ukraina sendiri pecah pada Februari 2022 ketika pasukan Moskwa melancarkan serangan besar-besaran.Sampai saat ini, perang antara kedua negara tersebut masih berkecamuk dan Rusia berhasil menduduki sejumlah wilayah Ukraina.Baca juga: Emmanuel Macron Bertemu Xi Jinping di China, Galang Dukungan Akhiri Perang Ukraina
(prf/ega)
Setelah Moskwa-Kyiv Damai, Trump Ingin AS Investasi Besar-besaran di Rusia
2026-01-12 15:43:46
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 14:12
| 2026-01-12 13:53
| 2026-01-12 13:44
| 2026-01-12 13:16










































