Kemendiktisaintek Targetkan Penanganan Bencana di Sumatera Rampung 31 Desember

2026-01-17 08:48:51
Kemendiktisaintek Targetkan Penanganan Bencana di Sumatera Rampung 31 Desember
JAKARTA, - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) penanganan bencana di Sumatera yang berkaitan dengan pendidikan tinggi ditargetkan selesai pada 31 Desember 2025."Kami punya target durasi satu bulan hingga 31 Desember. Ini sebagai tahap penanggulangan darurat," kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin , dilansir dari ANTARA.Saat ini, fokus penanganan atau penanggulangan darurat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meliputi pemenuhan kebutuhan mendesak, distribusi logistik, layanan kesehatan darurat, dan pemenuhan kebutuhan dasar, hingga pemulihan awal.Baca juga: Komisi X Dorong Layanan Psikososial untuk Guru dan Siswa Terdampak Bencana SumateraPer 6 Desember pukul 21.00 WIB, Kemendiktisaintek mencatat 60 perguruan tinggi terdampak banjir dan longsor di Sumatera.Rinciannya, 4 perguruan tinggi negeri (PTN) dan 27 perguruan tinggi swasta (PTS) di Aceh; 1 PTN dan 13 PTS di Sumatera Utara; serta 9 PTN dan 6 PTS di Sumatera Barat.Adapun sebagian besar kegiatan belajar dan mengajar di daerah terdampak bencana berhenti karena kondisi akses, lokasi, dan sivitas akademika yang mengungsi.Selain penanganan darurat, Fauzan menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyiapkan skema pemulihan untuk menangani berbagai dampak bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh. Program pemulihan tersebut dijadwalkan mulai berjalan pada Januari 2026.Baca juga: Prabowo Perintahkan Cari Tanah Negara untuk Lokasi Hunian Korban Bencana Sumatera"Pada tahap pemulihan, durasinya mulai Januari 2026," ujar Fauzan.Fokus Kemendiktisaintek, kata Fauzan, pada tahap pemulihan ini meliputi pelaksanaan program rehabilitasi jangka menengah, pemulihan ekonomi berkelanjutan, hingga rekonstruksi sanitasi.Edukasi mitigasi bencana untuk membangun ketahanan jangka panjang juga dilakukan Kemendiktisaitek, termasuk dukungan perbaikan infrastruktur seperti jembatan."Perlu kami sampaikan, apa yang dilakukan oleh Kemendiktisaintek ini merupakan bagian tak terpisahkan dari langkah-langkah secara integral yang juga diambil oleh kementerian/lembaga atau lembaga-lembaga sosial yang lain," ujar Fauzan.Baca juga: Ketua Komisi V Minta Pemerintah Tak Malu Minta Bantuan Jika Kesulitan Tangani Bencana SumateraSebelumnya, Wamendiktisaintek Stella Christie menegaskan pentingnya kehadiran kampus di tengah masyarakat untuk membantu meringankan beban warga yang terdampak bencana."Sebagai bentuk dukungan Kemendiktisaintek telah menganggarkan Rp50 miliar untuk digunakan sivitas akademika dalam membantu korban banjir. Ini adalah aksi nyata kampus berdampak dan nanti silakan USU membuat proposal tanggap daruratnya," ujar Stella saat meninjau Posko USU Peduli di Medan, Kamis .Baca juga: Biaya Pemulihan di Sumatera Diperkirakan Rp 51,82 Triliun, Ini RinciannyaIa menambahkan, bantuan tersebut terbuka bagi seluruh kampus di wilayah Sumatera yang mengalami dampak banjir.Setiap proposal yang disetujui akan dibiayai oleh Kemendiktisaintek dengan dukungan anggaran maksimal Rp 500 juta.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-17 07:04