Kehidupan Warga Kolong Menteng: Kontras Nyata di Balik Kawasan Elite Jakarta

2026-01-12 03:31:52
Kehidupan Warga Kolong Menteng: Kontras Nyata di Balik Kawasan Elite Jakarta
JAKARTA, - Di balik reputasinya sebagai salah satu kawasan paling elite di Jakarta, Menteng menyimpan realitas lain yang jarang terlihat, yakni warga kolong yang hidup di trotoar, tepi rel, dan bawah jembatan.Fenomena ini memperlihatkan jurang sosial yang begitu dekat secara fisik, namun jauh secara ekonomi.Di antara gedung pemerintahan, museum, hingga hunian kelas menengah atas, komunitas warga jalanan ini bertahan dengan pekerjaan serabutan dan tempat tinggal seadanya.Kehadiran mereka menjadi gambaran bagaimana ruang kota dimanfaatkan oleh kelompok termarjinalkan untuk bertahan hidup.Baca juga: Gang Royal Tak Pernah Tidur: Prostitusi 24 Jam di Pinggir Rel Kereta JakartaJalan Latuharhary pada siang hari memancarkan ketenangan khas kawasan elite, dengan gedung-gedung resmi dan rumah mewah berjajar rapinya.Namun beberapa meter dari jalur utama, trotoar sempit, pagar bata penuh grafiti, dan tepi rel menjadi tempat tinggal sementara bagi warga yang hidup tanpa rumah tetap.Di sepanjang trotoar, sejumlah orang beristirahat di atas tikar tipis, ditemani tas plastik dan gerobak yang menyimpan seluruh harta mereka.Di tepi rel, deretan karung dan botol bekas menunggu dijual, simbol mata pencaharian yang tak pernah benar-benar selesai.Baca juga: Kampung Pemulung di Tengah Gedung-gedung Pencakar Langit Jakarta/Lidia Pratama Febrian Dari Kolong ke Trotoar, Kisah Hidup Warga Kolong di Jantung Ibu KotaAle: Bertahan Dua Tahun di Tepi RelAle (40), warga asal Bogor, mengisahkan awal mula menetap di rel Latuharhary.“Saya sudah hampir dua tahun di sini. Awalnya cuma numpang lewat, nyari barang bekas. Lama-lama susah, jadi saya bertahan saja,” ujarnya.Setiap hari ia menyusuri gang hingga Pasar Rumput mencari barang bekas.“Kalau sepi, cuma dapat Rp 7.000. Kalau ramai, bisa Rp 15.000 per gerobak,” katanya.Penertiban sudah menjadi bagian hidupnya.“Pernah, terutama di kolong jembatan. Kami disuruh pergi, tapi mau ke mana? Ya akhirnya keluar ke pinggir trotoar. Kalau ada razia malam, kami minggir dulu,” tuturnya.


(prf/ega)