Mengabdi dengan Cinta, Honor dari Patungan Sesama Guru: Kisah Bu Saras, Guru Honorer di Kulon Progo

2026-01-15 09:42:34
Mengabdi dengan Cinta, Honor dari Patungan Sesama Guru: Kisah Bu Saras, Guru Honorer di Kulon Progo
KULON PROGO, – Bagi Alvian Saraswita (28), menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan janji hati.Di sebuah sekolah dasar kecil di Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, ia mengajar dengan honor Rp 300.000 per bulan.Uang yang ia dapat itu bukan dari negara, bukan pula dari dana BOS, melainkan dari patungan sesama guru.Guru dan murid memanggilnya Bu Saras. Ia bukan penduduk asli Kokap. Perempuan kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, itu pindah setelah menikah dan mengikuti suami ke kampung yang dikelilingi persawahan.Hidup Saras berubah ketika seorang tetangga memberi tahu bahwa SD Negeri 1 Pripih sedang membuka lowongan guru.“Waktu itu saya baru pindah setelah menikah. Ada tetangga yang bilang sekolah sini butuh guru. Saya langsung bikin lamaran, dan seminggu kemudian langsung mengajar,” kata Saras.Ia mulai bertugas pada September 2023. Baru dua tahun berjalan, namun ia sudah menjadi bagian penting sekolah.Meski demikian, statusnya masih “guru honorer murni”—kategori yang tidak tercatat di kepegawaian daerah sehingga tidak bisa mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).Saat menceritakan alasan menjadi guru membuat Alvian berkaca-kaca.Katanya, ia membutuhkan 13 semester untuk menyelesaikan studi pendidikan, karena sempat berhenti setelah ayahnya mengalami kecelakaan.Namun sang ayahlah yang kemudian mendorongnya untuk kembali berkuliah.Baca juga: Delapan Honorer di Demak Gagal Diangkat PPPK Paruh Waktu, Ada yang Meninggal “Bapak yang paling nyemangatin. Beliau bilang, ‘Ijazah kok nggak dipakai? Kamu harus lanjut.’ Akhirnya saya kembali kuliah, walau lama,” ujarnya.Keinginan menunaikan pesan ayah itulah yang membawanya ke ruang-ruang kelas di Pripih. Kini, sambil mengajar, ia juga mengasuh putra pertamanya yang baru berusia 22 bulan.“Yang penting nama saya ada di sekolah ini. Saya mengabdi untuk masa depan saya, dan masa depan anak-anak di sini,” katanya.KOMPAS.COM/DANI JULIUS Alvian Saraswati honorer guru olahraga Sekolah Dasar Negeri 1 Pripih, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.Kepala SD Negeri 1 Pripih, Mujiasih, tidak menutupi kondisi sulit sekolah kecil tersebut. Kekurangan guru terjadi sejak salah satu guru meninggal beberapa tahun lalu. Sekolah telah meminta tambahan guru ke dinas, namun belum ada hasil.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

YouTube menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat Take a Break dan Bedtime yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.Pengingat Take a Break adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan Bedtime adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua.Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.Ini merupakan tambahan dari hal lain yang sudah kami miliki yaitu pengingat 'Taking a Break' dan 'Bedtime', tutur Graham.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Main HP Sebelum Tidur, Ini Dampaknya Dok. Freepik/Freepik Orangtua bisa gunakan fitur Shorts Daily Time Limit agar anak tidak lupa waktu menonton YouTube Shorts. Terkait fitur pembatasan durasi menjelajah feed YouTube Shorts, Graham mengatakan, hal ini bisa membantu anak memahami regulasi waktu penggunaan platform digital mereka.Jadi, ketika anak-anak scrolling Shorts, aplikasi akan 'menyundul' mereka (memberi notifikasi), yaitu intervensi kecil yang menurut pakar perkembangan anak penting dalam pengaturan diri anak-anak, tutur dia.Anak-anak tetap diizinkan untuk memegang kendali akan akun YouTube untuk mengakses feed YouTube Shorts, tapi mereka tidak akan lupa waktu seperti sebelumnya.Melalui fitur Shorts Daily Time Limit yang sudah diatur oleh orangtua, anak jadi paham bahwa mereka hanya boleh mengakses YouTube Shorts berapa lama, sehingga lambat laun sudah terbiasa dan dengan sendirinya bisa mengatur waktu mereka di YouTube.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Main HP, Ini Kata Psikolog

| 2026-01-15 08:10