Ikan Sidat Asal Indonesia Kalahkan Salmon, Jadi Sumber Omega-3 Tertinggi

2026-01-11 22:43:51
Ikan Sidat Asal Indonesia Kalahkan Salmon, Jadi Sumber Omega-3 Tertinggi
– Ikan sidat, salah satu sumber daya perikanan strategis asal Indonesia, ternyata menyimpan potensi gizi yang mengejutkan, bahkan melampaui ikan salmon yang selama ini dianggap sebagai sumber nutrisi premium.Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gadis Sri Haryani, mengungkapkan temuan ini dalam sebuah seminar di Kampus Unpad, Jatinangor, Kamis .Ikan sidat (Anguilla spp.) adalah salah satu komoditas unggulan Indonesia yang sangat diminati pasar ekspor Jepang, tetapi di negeri sendiri kurang populer.Baca juga: Konflik Sengit Penguin Afrika Berburu di Lokasi yang Sama dengan Kapal IkanGadis menjelaskan, ikan sidat yang bentuknya mirip belut ini memiliki kandungan nutrisi tertinggi jika dibandingkan dengan salmon dan gabus.Ikan sidat kaya akan vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor.Namun, kandungan yang paling menonjol adalah omega-3 (DHA dan EPA).DHA (asam dokosaheksaenoat) berfungsi penting dalam perkembangan dan fungsi otak.Sementara EPA (asam eicosapentaenoat) membantu menjaga kesehatan jantung dan mengurangi peradangan."Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” kata Gadis dikutip dari laman resmi BRIN.Temuan ini menunjukkan, sidat merupakan komoditas bernilai tinggi dan berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut.Meskipun memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi strategis, ikan sidat menghadapi ancaman serius terhadap kelestarian populasinya. Sidat termasuk kategori biologi kritis karena siklus hidupnya yang unik, yaitu katadromus."Katadromus artinya dia ketika telur dan menetas di laut menjadi leptocephalus atau larva belut yang unik, memiliki bentuk pipih, transparan, dan seperti daun serta tidak punya kemampuan berenang,” papar Gadis menerangkan kompleksitas siklus hidup sidat.shutterstock/bonchan Ilustrasi unagi filet ikan sidat. Larva kemudian berubah menjadi sidat kaca atau glass eel selama perjalanan dari laut dalam menuju estuari atau muara sungai.Siklus hidup yang melibatkan tiga ekosistem—laut, estuari, dan air tawar—membuat populasi sidat rawan terhadap berbagai ancaman dan gangguan.Tingginya permintaan pasar dan tekanan penangkapan glass eel di alam menimbulkan permasalahan pelik di Indonesia.


(prf/ega)