JAKARTA, – Kali Mookervart di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, selama ini dikenal dengan airnya yang berwarna hitam pekat dan berbau tak sedap.Namun, di balik stigma tersebut, air dari kali ini justru menjadi sumber utama air bersih bagi ribuan warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Pesakih, Cengkareng.Pantauan Kompas.com di lokasi, Selasa , aliran Kali Mookervart tampak berwarna hitam pekat dengan sejumlah sampah mengambang di permukaannya.Berbeda dengan kondisi tersebut, air di waduk yang berada di dalam kawasan Rusunawa Pesakih terlihat berwarna kehijauan karena berasal dari tampungan air hujan.Baca juga: Ahli: Perluasan PAM Jadi Solusi Kurangi Ketergantungan Air Tanah di JakartaSebuah mesin tampak bekerja mengalirkan air dari Kali Mookervart menuju waduk tersebut. Air itu kemudian diolah sebelum akhirnya didistribusikan ke unit-unit hunian warga.Melalui teknologi Water Treatment Plant (WTP), air kali yang tercemar disaring dan diolah hingga menjadi air bersih yang jernih, tidak berbau, dan diklaim memenuhi standar kesehatan serta layak konsumsi.Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) Pesakih, Muhammad Ali, menjelaskan bahwa pemanfaatan air Kali Mookervart dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan air bersih serta kebijakan pelarangan penggunaan air tanah di Jakarta.“Mengingat kebutuhan air akan masyarakat, kebutuhan air bersih, Rusun ini mulai menggali potensi-potensi. Dari hasil analisis PAM Jaya, melihat bahwa ada potensi untuk penggunaan air di sekitar rusun, yaitu aie dari Kali Mookervart,” ujar Ali saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa .Meski demikian, Ali menegaskan, air yang disalurkan ke unit hunian tidak sepenuhnya berasal dari Kali Mookervart secara mentah. Air tersebut dicampur dengan air hujan yang tertampung di Waduk Mookervart, yang terletak tepat di depan kawasan Rusunawa Pesakih.“Nah, jadi secara teknis, enggak mentah-mentah semuanya itu air dari kali, ya. Karena sebenernya sumbernya itu juga dari waduk, nah air dari kali dan waduk ini nanti jadi satu, lalu baru disaring, diolah, baru didistribusikan,” kata Ali.Baca juga: Ahli Ingatkan Bahaya Penggunaan Air Tanah di Jakarta, Tanah Amblas dan Air PayauKepala Satuan Sarana dan Prasarana UPRS Pesakih, Kevin Mario Nando, turut menjelaskan alur pengolahan air yang melibatkan waduk penampungan tersebut.“Jadi untuk sistem pengolahan dari Waduk Mookervart ini, ada sebagian penampungan air hujan, dan air dari kali. Nah air itu tadi lalu diolah oleh PAM Jaya di instalasi yang lokasinya di waduk itu juga,” jelas Kevin.Setelah melalui proses penyaringan dan pengolahan, air tersebut dialirkan ke Ground Water Tank (GWT) sebelum akhirnya didistribusikan ke seluruh unit rusun.Tak hanya untuk hunian, pasokan air ini juga digunakan oleh Masjid Raya K.H. Hasyim Asy’ari yang berada di sebelah Rusunawa Pesakih, salah satu masjid terbesar di Jakarta Barat.“Jadi seluruh kawasan rusun ini, memakai air ini, pengolahan dari waduk dan kali. Semua tower, blok, termasuk Masjid Raya, itu pakai air ini semua,” sambung Kevin.Ali menambahkan, kapasitas produksi air bersih dari instalasi tersebut mencapai 34 hingga 36 meter kubik per jam.“Sejauh ini kuantitas terpenuhi. Belum ada keluhan kekurangan,” timpal Ali.Baca juga: Warga Minta Tanggul Situ 7 Muara Depok Ditinggikan agar Air Tak MeluapPersoalan kualitas menjadi perhatian utama dalam pemanfaatan air dari Kali Mookervart. Ali menegaskan, secara fisik, air hasil olahan terlihat jernih dan tidak berbau.
(prf/ega)
Dari Kali Hitam ke Air Bersih: Cerita Rusunawa Pesakih Manfaatkan Air Kali Mookervart
2026-01-11 23:03:23
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 22:53
| 2026-01-11 22:36
| 2026-01-11 22:30
| 2026-01-11 21:44
| 2026-01-11 21:24










































