Ketum TP PKK Puji Bazar Amal WIC Libatkan UMKM: Saling Menguntungkan

2026-01-12 12:25:54
Ketum TP PKK Puji Bazar Amal WIC Libatkan UMKM: Saling Menguntungkan
Ketua Umum (Ketum) Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), Tri Tito Karnavian mengapresiasi bazar amal tahunan ke-56 Women's International Club (WIC) yang turut berkolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia.Menurutnya, kegiatan bertaraf internasional tersebut menarik untuk dihadiri karena menampilkan beragam produk dari berbagai negara, termasuk dari kedutaan besar yang ada di Jakarta."Saya senang bahwa kegiatan Women's International (Club) ini berkolaborasi dengan UMKM, sehingga ada saling menguntungkan," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).Hal tersebut ia katakan saat Peresmian Pembukaan Bazar Amal WIC Jakarta ke-56, di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (19/11).Tri menjelaskan selain produk internasional, acara tersebut juga menampilkan berbagai produk dari dalam negeri, salah satunya kerajinan dari Provinsi Kalimantan Selatan. Ia menilai dukungan daerah sangat penting untuk mendorong perkembangan kerajinan nasional.Karena itu, ia berharap para pengunjung tidak hanya tertarik dengan produk internasional, tetapi juga memberikan perhatian pada produk lokal."Selain itu juga ada teman-teman yang terkhusus dari dalam negeri, terutama ini dukungan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, dan kebetulan mereka juga adalah yang mendorong kerajinan nasional daerah di Kalimantan Selatan," terangnya.Tri menambahkan, bahwa melalui bidang fashion maupun produk kreatif lain, kolaborasi dengan negara lain dapat menjadi inspirasi dalam menciptakan karya baru. Bukan untuk meniru atau menjiplak, tetapi untuk memperkaya kreativitas.Ia menegaskan pentingnya kepercayaan diri dalam berkarya agar produk Indonesia dapat menjadi tren dan diminati masyarakat."Ini wadah yang baik untuk para UMKM untuk dikenal masyarakat dan juga mempromosikan produknya," pungkasnya.Tonton juga Video: Bazar Ramadan di Masjid Istiqlal[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 11:42