Pengamat: Bahlil Ingin Tunjukkan Loyalitas Total Golkar ke Prabowo

2026-01-15 13:32:58
Pengamat: Bahlil Ingin Tunjukkan Loyalitas Total Golkar ke Prabowo
JAKARTA, - Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, menilai Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia ingin menunjukkan loyalitas penuh partainya kepada Presiden Prabowo Subianto.Sikap tersebut tercermin dari sejumlah pernyataan Bahlil dalam agenda resmi partai sepanjang Desember 2025.Pernyataan itu, menurut Adi, menguat setelah Bahlil kembali menegaskan komitmen Golkar untuk tetap berada di barisan Prabowo dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Golkar pada Sabtu .Sikap serupa sebelumnya juga disampaikan Bahlil dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Golkar pada Jumat .Baca juga: Janji Bahlil: Golkar Setia ke Prabowo Dalam dua agenda tersebut, Bahlil secara terbuka menegaskan bahwa Golkar akan terus mendukung Prabowo dan tidak akan berpindah haluan politik.“Bahlil ingin menunjukkan loyalitas totalnya ke Prabowo Subianto sampai kapanpun. Dalam politik, loyalitas faktor utama,” kata Pengamat Politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno.Adi menjelaskan, Prabowo merupakan figur yang besar dalam kultur militer, lingkungan yang menjunjung tinggi nilai loyalitas.Karena itu, menurutnya, Bahlil ingin menegaskan sejak awal bahwa Golkar adalah partai yang paling setia mendukung Prabowo.Baca juga: Marak OTT KPK, Bahlil Minta Kader Golkar Tak Melenceng dari AturanDalam perspektif komunikasi politik, Adi menilai pernyataan Bahlil juga mencerminkan sikap politik yang realistis, terutama jika dikaitkan dengan dinamika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.“Karena apapun judulnya, bicara pencalonan Pilpres 2029, Prabowo paling kuat mengingat posisinya sebagai petahana. Jangankan Golkar, rasa-rasanya figur lain pun juga sulit tandingi Prabowo di 2029,” ucap dia.Di sisi lain, Adi menilai sikap tersebut juga menegaskan kondisi internal Golkar yang dinilai belum memiliki figur kuat untuk diusung dalam kontestasi Pilpres mendatang.“Tak heran jika banyak pihak yang menyebut Golkar spesialis kuat di pileg, tapi tak di pilpres. Di pilpres pun hanya wapres melalui JK. Setelah itu tak ada figur lain di pilpres,” jelas dia.Baca juga: Bahlil Klaim Tak Pernah Gunakan Golkar untuk Urusan PribadiDalam Rapimnas Golkar yang digelar di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Sabtu , Bahlil Lahadalia secara tegas menyatakan Golkar akan setia mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka hingga akhir masa jabatan.Ia menegaskan, Golkar tidak boleh bersikap maju-mundur dalam menjalankan komitmen politik tersebut.“Sebagai bagian konsekuensi daripada partai yang mengusung (Prabowo-Gibran) memperjuangkan yang masuk dalam koalisi. Kita enggak boleh masuk dalam koalisi-koalisi banci, enggak boleh,” ujar Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 12:57