Krisis Ruang Kelas SMP di Buleleng, Bupati: Saya Baru Tahu

2026-01-11 22:32:51
Krisis Ruang Kelas SMP di Buleleng, Bupati: Saya Baru Tahu
BULELENG, – Pemerintah Kabupaten Buleleng, merespons krisis ruang belajar yang masih membayangi SMP Negeri 6 Tejakula di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali.Meski sekolah ini baru saja mendapatkan dua ruang kelas baru (RKB) dari pemerintah pusat pada 2025, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung dengan sistem shift.Sistem giliran itu diberlakukan karena jumlah ruang yang tersedia belum sebanding dengan jumlah siswa.Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, mengaku kaget melihat keterbatasan fasilitas di SMP Negeri 6 Tejakula.Baca juga: Krisis Ruang Kelas SMP di Buleleng, Siswa Belajar dengan Sistem Sif"Ini sebuah kejutan, saya baru tahu bahwa SMP 6 Tejakula hanya punya tiga ruang kelas. Kemudian ruang laboratorium yang dipakai untuk ruang guru," ujarnya, Senin di Buleleng.Menurutnya, lonjakan jumlah siswa yang telah mencapai lebih dari 300 orang harus segera diantisipasi.Ia menekankan bahwa penambahan ruang kelas sangat mendesak agar kegiatan belajar dapat berlangsung normal, terutama bagi siswa kelas VIII dan IX."Dengan potensi anak-anak yang sekarang 300 lebih dan tiap tahun akan meningkat, ini yang harus diantisipasi. Penambahan ruang kelas baru, paling tidak kelas VIII–IX yang perlu perhatian khusus bisa mendapat shift pagi," katanya.Baca juga: Terjebak di Tengah Laut karena Mesin Perahu Mati, Nelayan Buleleng Ikuti Arah Angin hingga SelamatSebagai tindak lanjut, Sutjidra memastikan pemerintah daerah akan membangun empat ruang kelas baru beserta fasilitas pendukung melalui APBD pada 2027."Empat ruang kelas yang dijanjikan tahun 2027 itu kita pakai APBD. Ruang kelas, toilet putra-putri masing-masing tiga, kemudian wantilan semua dari APBD. Ini untuk peningkatan sarpras anak-anak kita," lanjut dia.SMP Negeri 6 Tejakula, yang berdiri pada 2016, selama bertahun-tahun hanya memiliki tiga ruang kelas aktif.Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, I Nyoman Kartika Awan, menjelaskan kondisi tersebut membuat sekolah harus menerapkan pembelajaran dua shift, pagi dan sore.Sekolah ini bahkan harus meminjam ruang kelas di SD Negeri 3 Les."Karena hanya memiliki tiga ruang kelas sehingga proses pembelajaran double shift pagi–sore. Selain itu, kami juga pinjam 4 ruang kelas di SD Negeri 3 Les," ujarnya.Baca juga: Pohon Raksasa Tumbang, 4 Tempat Persembahyangan Pura di Buleleng RusakDua ruang kelas baru yang dibangun melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pusat senilai lebih dari Rp 600 juta memang memberikan sedikit kelonggaran.Namun, kebutuhan ruang belajar masih jauh dari cukup. Dengan total 326 siswa yang terbagi dalam 11 rombongan belajar, sekolah idealnya memerlukan minimal 11 ruang kelas.Selain itu, fasilitas pendukung seperti ruang guru, ruang kepala sekolah, hingga laboratorium juga belum tersedia secara layak."Kami belum punya ruang kepala sekolah, guru, dan tenaga admin. Untuk ruang guru sekarang kita memanfaatkan perpustakaan. Ruang laboratorium juga kita pakai belajar," lanjut Awan.


(prf/ega)