Wali Kota Makassar Tegaskan Relokasi Bukan Solusi, Konflik Tallo Perlu Penataan Sosial

2026-02-05 03:27:52
Wali Kota Makassar Tegaskan Relokasi Bukan Solusi, Konflik Tallo Perlu Penataan Sosial
- Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa rencana relokasi warga di Kecamatan Tallo bukanlah langkah yang tepat untuk menghentikan konflik antarkelompok yang kerap terjadi. Ia menyebut pemerintah lebih memilih menata kehidupan masyarakat dan memperluas lapangan kerja sebagai solusi utama.“Tidak di relokasi, itu masih sangat jauh masalah relokasi, tetapi bagaimana menata kehidupan mereka,” kata Munafri, atau Appi, kepada wartawan usai menghadiri pertemuan Kamtibmas, Kamis .Menurutnya, penataan sosial dan pembenahan lingkungan menjadi langkah penting agar konflik tidak kembali terulang. “Makanya kita harus masuk untuk membenahi kondisi masyarakat yang ada di sana,” ujarnya.Baca juga: Tawuran Pecah Lagi di Tallo, Satu Remaja Tewas Tertembak Senapan AnginAppi menyoroti bahwa konflik yang berulang di Tallo terutama merugikan warga, termasuk belasan rumah yang hangus terbakar. Ia menyampaikan bahwa Pemkot Makassar berencana membuka lapangan kerja sebagai bagian dari upaya pemberdayaan.“Iya, itulah yang saya bilang, lapangan kerja ini proses pemberdayaan,” ucapnya.Namun, ia mengakui bahwa sebagian besar pelaku konflik adalah anak-anak dan remaja berusia 14–15 tahun.Karena itu, pemerintah akan memprioritaskan pemulihan kondisi sosial warga sebelum program pemberdayaan digulirkan.“Bagaimana mau dikasih lapangan kerja kalau anak-anak yang di dalam 14-15 tahun yang belum sampai di wilayah kerja. Tapi semua ada cara yang harus kita lakukan,” katanya.Baca juga: Dugaan Bekingan Senapan Angin di Balik Tawuran Tallo, Warga Pertanyakan PelakuSosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Rahmat Muhammad, menilai ada lima faktor utama yang menyebabkan tawuran terus berulang di Tallo.Insiden terbaru bahkan menewaskan beberapa orang dan membakar tujuh rumah.“Setidaknya dari pendekatan sosiologis ada 5 faktor tersebut yang memungkinkan sampai terjadi (tawuran yang terus berulang) itu,” ujar Prof Rahmat.Lima faktor tersebut adalah lingkungan sosial tidak sehat, kesenjangan ekonomi dan pengangguran, pendidikan rendah, paparan konten kekerasan di medsos, dan doktrin konflik turun-temurun. Baca juga: Wali Kota Makassar Ungkap Penyebab Konflik dan Perketat Keamanan di Tallo Pascatawuran Berhari-hari


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

YouTube menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat Take a Break dan Bedtime yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.Pengingat Take a Break adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan Bedtime adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua.Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.Ini merupakan tambahan dari hal lain yang sudah kami miliki yaitu pengingat 'Taking a Break' dan 'Bedtime', tutur Graham.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Main HP Sebelum Tidur, Ini Dampaknya Dok. Freepik/Freepik Orangtua bisa gunakan fitur Shorts Daily Time Limit agar anak tidak lupa waktu menonton YouTube Shorts. Terkait fitur pembatasan durasi menjelajah feed YouTube Shorts, Graham mengatakan, hal ini bisa membantu anak memahami regulasi waktu penggunaan platform digital mereka.Jadi, ketika anak-anak scrolling Shorts, aplikasi akan 'menyundul' mereka (memberi notifikasi), yaitu intervensi kecil yang menurut pakar perkembangan anak penting dalam pengaturan diri anak-anak, tutur dia.Anak-anak tetap diizinkan untuk memegang kendali akan akun YouTube untuk mengakses feed YouTube Shorts, tapi mereka tidak akan lupa waktu seperti sebelumnya.Melalui fitur Shorts Daily Time Limit yang sudah diatur oleh orangtua, anak jadi paham bahwa mereka hanya boleh mengakses YouTube Shorts berapa lama, sehingga lambat laun sudah terbiasa dan dengan sendirinya bisa mengatur waktu mereka di YouTube.Baca juga: Jangan Biasakan Anak Makan Sambil Main HP, Ini Kata Psikolog

| 2026-02-05 02:15