Bencana Jangan Dijadikan Ajang Serangan Politik, Elite Diminta Fokus Penanganan Korban

2026-01-12 04:52:47
Bencana Jangan Dijadikan Ajang Serangan Politik, Elite Diminta Fokus Penanganan Korban
Jakarta - Direktur Eksekutif Akar Rumput Strategic (ARSC) Dimas Oky Nugroho melontarkan kritik tajam terhadap fenomena saling serang antaraktor pemerintah dan politik di tengah penanganan bencana. Ia menilai, bencana justru dijadikan arena serangan politik yang tidak relevan dan berpotensi mengaburkan esensi utama, yakni kehadiran negara bagi rakyat terdampak.“Ini bukan sekadar kritik penanganan bencana. Jika jernih, ini sudah mengarah serangan personal dan bau amis kepentingan atau rivalitas politik. Pemilu dan pilpres 2029 masih jauh, fokus kerja bantu Presiden dan pastikan pelaksanaan program, khususnya penanganan dampak bencana,” kata Dimas dalam diskusi jejaring Perkumpulan Kader Bangsa di Jakarta, Senin .Dimas menyoroti derasnya serangan dan kritik terhadap sejumlah aktor pemerintah yang juga aktor politik di media sosial akhir-akhir ini. Ia menilai sejumlah kritik bernilai objektif namun di sisi lain banyak yang bemuatan politis dan hasil dari mobilisasi atau penggorengan buzzer-buzzer politik. Sehingga mengaburkan evaluasi substansial terkait respon dan penanganan bencana oleh negara.Advertisement"Mari lihat secara lebih tenang dan objektif kiprah pejabat publik, yang juga dari sono-nya adalah aktor-aktor politik, saat menyalurkan bantuan bencana di Sumatra. Bahwa ada di antara mereka, karena perannya, harus, dan dituding, melakukan pencitraan politik, saya pikir tak bisa dihindarkan. Tapi yang harus kita perhatikan fakta di lapangan bahwa masyarakat terdampak sangat butuh bantuan konkret, quick response dan massif dari negara, publik, parpol, pengusaha atau siapa saja yang dapat membantu mereka."Dimas sepakat untuk menolak aksi-aksi pencitraan lebay para elite-elite politik. Namun, ia mengajak publik untuk lebih fokus memastikan dan mengawasi berjalannya upaya, tata kelola dan skala penyaluran bantuan kepada daerah dan korban bencana. Menurutnya ruang publik hari ini terlalu banyak membahas sisi drama politik receh yang sarat mobilisasi dan rivalitas antar elite."Kalau kita lihat polanya, ini bukan reaksi spontan netizen. Ada indikasi mobilisasi akun dan buzzer politik, dan itu sangat mungkin didorong kepentingan politik tertentu. Ada manuver pencitraan di sana, tapi kemudian bencana ditunggangi untuk menyerang antara kekuatan yang berkontestasi, meski pemilu dan pilpres masih jauh. Saran saya kita tolak aksi-aksi penggorengan seperti ini, tidak produktif, kan yang penting semua pihak menyadari kekeliruannya dan kembali fokus pada upaya penanganan bencana,” ujarnya. 


(prf/ega)