Gagalnya Pemakzulan Sudewo: Menakar Arah Demokrasi Lokal di Pati

2026-02-05 10:51:59
Gagalnya Pemakzulan Sudewo: Menakar Arah Demokrasi Lokal di Pati
AKSI masyarakat Pati, Jawa Tengah, menjelang ulang tahun Indonesia ke-80 atas dugaan arogansi Bupati Sudewo menjadi cermin dari dinamika kekuasaan lokal di era desentralisasi.Saat itu dalam waktu singkat, tekanan publik berhasil memaksa pemerintah daerah membatalkan rencana kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta memaksa DPRD menggunakan hak angket, suatu mekanisme kontrol politik yang selama ini jarang dipakai di tingkat kabupaten.Namun, kemenangan parsial itu berhenti ketika DPRD menolak tuntutan pemakzulan Bupati. Satu-satunya fraksi yang mendukung, yakni PDIP, tidak memiliki kekuatan politik yang memadai untuk menggoyang struktur mayoritas yang solid di belakang bupati.ANTARA FOTO/Fauzan Bupati Pati Sudewo (tengah) berjalan keluar usai menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu . Sudewo diperiksa sebagi saksi kasus dugaan suap pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api di lingkungan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) untuk klaster proyek pembangunan jalur kereta api ganda Solo Balapan-Kadipiro-Kalioso. ANTARA FOTO/Fauzan/agrFenomena ini memperlihatkan wajah ganda demokrasi lokal: partisipasi rakyat yang dinamis, tapi dibatasi struktur politik yang tersusun atas jaringan kepentingan.Terlebih lagi dengan adanya penangkapan dua aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Teguh dan Supriyono.Baca juga: Menghadirkan Demokrasi Substantif yang Masih Jadi MimpiHal itu memberi pesan bahwa ekspresi politik rakyat tetap dipandang sebagai gangguan, bukan bagian dari legitimasi demokrasi.Padahal, jika kasus Sudewo secara formal dianggap selesai, ekses politik dan sosial yang menyangkut sikap rakyat semestinya tidak diperpanjang melalui kriminalisasi.Meski Bupati Sudewo telah menyatakan permohonan maaf dan berjanji akan intropeksi diri, pada kenyataanya ia tetap dalam posisi defensif.Surat pembaca yang dimuat Harian Kompas dengan judul “Perlawanan Bukan dari Keseluruhan Warga Pati” menganggap liputan Kompas tidak proporsional.Ia menampilkan data statistik jumlah penduduk Pati untuk menegasikan gerakan moral dan sosial rakyat Pati yang berhimpun menyampaikan aspirasi mereka.Argumen statistik semacam itu bukan saja dangkal, tetapi menandakan lemahnya empati politik. Kekuasaan yang menilai legitimasi hanya berdasarkan angka telah kehilangan kemampuan untuk membaca simbol dan pesan sosial yang lebih dalam.Sejak desentralisasi tahun 2001, banyak daerah di Indonesia mengalami gejala serupa: demokrasi elektoral tumbuh, tetapi akuntabilitas publik stagnan.Vedi R. Hadiz (2010) dalam Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia menyebut kondisi ini sebagai “reproduksi oligarki lokal”, di mana elite politik lama bertransformasi menjadi jaringan kekuasaan baru yang menancap di tingkat kabupaten.Baca juga: Delpedro Marhaen: Agitator atau Edukator?Demokrasi menjadi ruang perebutan sumber daya, bukan arena perdebatan moral tentang kepentingan publik.Analisis Hadiz diperkuat oleh Gerry van Klinken (2014) dalam Patronage Democracy in Indonesia, yang menggambarkan politik lokal pasca-reformasi sebagai “demokrasi patronase”, di mana hubungan antara pejabat, partai, dan warga ditentukan oleh pertukaran jasa, uang, dan akses.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#1

Pada hari penerapan, ganjil genap berlaku dalam dua sesi, yakni pagi pukul 06.00–10.00 WIB dan sore pukul 16.00–21.00 WIB. Pengendara yang melintas di akses tol yang terhubung langsung dengan jalan ganjil genap tetap wajib menyesuaikan pelat nomor kendaraan.Baca juga: Wisatawan Menuju Gunungkidul Diimbau Gunakan Jalur AlternatifAdapun 28 akses gerbang tol di Jakarta yang terkena ganjil genap pada pekan ini sebagai berikut:1. Jalan Anggrek Neli Murni sampai akses masuk Tol Jakarta-Tangerang2. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai Jalan Brigjen Katamso3. Jalan Brigjen Katamso sampai Gerbang Tol Slipi 24. Off ramp Tol Tomang/Grogol sampai Jalan Kemanggisan Utama5. Simpang Jalan Palmerah Utara-Jalan KS Tubun sampai Gerbang Tol Slipi 16. Jalan Pejompongan Raya sampai Gerbang Tol Pejompongan7. Off ramp Tol Slipi/Palmerah/Tanah Abang sampai akses masuk Jalan Tentara Pelajar8. Off ramp Tol Benhil/Senayan/Kebayoran sampai akses masuk Jalan Gerbang Pemuda9. Off ramp Tol Kuningan/Mampang/Menteng sampai simpang Kuningan10. Jalan Taman Patra sampai Gerbang Tol Kuningan 211. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai simpang Pancoran12. Simpang Pancoran sampai Gerbang Tol Tebet13. Jalan Tebet Barat Dalam Raya sampai Gerbang Tol Tebet 214. Off ramp Tol Tebet/Manggarai/Pasar Minggu sampai Jalan Pancoran Timur II15. Off ramp Tol Cawang/Halim/Kampung Melayu sampai simpang Jalan Otto Iskandardinata-Jalan Dewi Sartika16. Simpang Jalan Dewi Sartika-Jalan Otto Iskandardinata sampai Gerbang Tol Cawang17. Off ramp Tol Halim/Kalimalang sampai Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang18. Jalan Cipinang Cempedak IV sampai Gerbang Tol Kebon Nanas19. Jalan Bekasi Timur Raya sampai Gerbang Tol Pedati20. Off ramp Tol Pisangan/Jatinegara sampai Jalan Bekasi Barat21. Off ramp Tol Jatinegara/Klender/Buaran sampai Jalan Bekasi Timur Raya22. Jalan Bekasi Barat sampai Gerbang Tol Jatinegara23. Simpang Jalan Rawamangun Muka Raya-Jalan Utan Kayu Raya sampai Gerbang Tol Rawamangun24. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan Utan Kayu Raya-Jalan Rawamangun Muka Raya25. Off ramp Tol Rawamangun/Salemba/Pulogadung sampai simpang Jalan H Ten Raya-Jalan Rawasari Selatan26. Simpang Jalan Rawasari Selatan-Jalan H Ten Raya sampai Gerbang Tol Pulomas27. Off ramp Tol Cempaka Putih/Senen/Pulogadung sampai simpang Jalan Letjend Suprapto-Jalan Perintis Kemerdekaan28. Simpang Jalan Pulomas sampai Gerbang Tol Cempaka Putih

| 2026-02-05 11:45