Berangkat Ketika Masih Gelap, Tiba Saat Terang, Demi Mendengar "Selamat Pagi Pak Guru" di Pripih Kulon Progo

2026-01-12 15:21:45
Berangkat Ketika Masih Gelap, Tiba Saat Terang, Demi Mendengar
KULON PROGO, - Fajar belum menyingsing ketika Suripto (36) membuka mata. Jam di ponselnya masih menunjukkan pukul 04.00. Alarm yang tak pernah absen berbunyi saban hari, menandai dimulainya perjalanan panjang yang ia jalani selama enam tahun terakhir.Dari rumahnya di Desa Pandansari, Kecamatan Sruweng, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Suripto harus menempuh perjalanan hampir 50 kilometer dengan sepeda motor.Tujuannya satu: tiba tepat waktu di SD Negeri 1 Pripih, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.Ia tidak ngebut. Dengan kecepatan wajar, ia melaju di Jalan Daendels yang lurus, melintasi perbatasan tiga kabupaten.Baca juga: Rayakan Hari Guru Nasional 2025: Ini 50 Link Download Twibbon Lengkap Cara PemakaiannyaDari subuh hingga pagi, Suripto menempuh lintasan panjang: Kebumen — Purworejo — Kulon Progo.Baginya, jalur selatan adalah pilihan paling aman. Bukan karena nyaman, tetapi karena ia sudah memahami karakter jalannya.Semua itu dilakukan agar pukul 07.00 WIB ia sudah berdiri di depan kelas, menyapa murid-muridnya dan mendengar salam yang selalu membuat letih perjalanan seolah hilang: “Selamat pagi, Pak Guru.”"Kalau berangkat lewat pukul 5, pasti tergesa-gesa. Jadi jam 4 harus bangun," kata Suripto."Awalnya berat, tapi lama-lama rasanya semakin dekat. Sudah terbiasa," ujarnya.Namun tubuh manusia tetap punya batas. Kantuk adalah musuh utama perjalanan jauh.Suatu kali, ia mengalami kecelakaan tunggal di Purworejo ketika rasa kantuk mengalahkan fokus. Ia kecebur masuk selokan. Beruntung, lukanya tidak parah dan ia masih bisa bangun sambil menertawakan diri sendiri.Hujan pun sering kali menjadi ujian lain. Mantel tak selalu mampu menahan air, sedangkan genangan yang menutup lubang jalan bisa menjadi jebakan."Kalau hujan harus pelan. Lubang-lubang itu enggak kelihatan," katanya.Pernah pula ban motornya pecah. Dari pengalaman itu, Suripto kini beralih ke ban tubeless demi mengurangi risiko mogok jauh dari bengkel.Pernah ia harus menuntun motor sejauh 1,5 kilometer sebelum seorang warga menunjukkan jalan menuju bengkel kecil di dalam kampung.


(prf/ega)