Bisakah Melahirkan di Rumah Sakit dengan BPJS tanpa Rujukan?

2026-01-17 04:43:27
Bisakah Melahirkan di Rumah Sakit dengan BPJS tanpa Rujukan?
- Banyak ibu hamil mempertanyakan apakah mereka bisa melahirkan dengan BPJS Kesehatan di rumah sakit tanpa membawa surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas atau klinik.Kekhawatiran ini kerap muncul terutama ketika proses persalinan sudah dekat atau saat terjadi kondisi darurat.Merujuk pada ketententuan yang berlaku, BPJS Kesehatan memang menerapkan sistem berjenjang. Artinya, peserta harus terlebih dahulu berobat ke FKTP sesuai fasilitas yang tertera pada kartu BPJS.Untuk diketahui, BPJS Kesehatan mengharuskan peserta mengikuti alur pelayanan berjenjang. Untuk pemeriksaan kehamilan hingga persiapan persalinan, peserta harus datang ke FKTP tempatnya terdaftar.Rujukan ke rumah sakit bisa diberikan bila pasien membutuhkan tindakan medis tingkat lanjutan atau ditemukan ada indikasi medis yang tidak dapat ditangani FKTP.Baca juga: 5 Cara Melihat Tagihan BPJS Kesehatan dan Jatuh TemponyaAsisten Deputi Bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Masyarakat BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, menjelaskan dalam kasus melahirkan dengan BPJS Kesehatan tanpa rujukan dari FKTP, bisa dilakukan asalkan peserta mengalami keadaan darurat.Menurut Rizzky, pasien dapat melakukan persalinan di rumah sakit tanpa rujukan dari FKTP hanya jika dalam kondisi sudah dianggap gawat darurat."Dalam kondisi gawat darurat, seperti perdarahan, kejang pada kehamilan, ketuban pecah dini, gawat janin, dan kondisi lain yang mengancam jiwa ibu dan bayi," jelas Rizzky dikutip pada Minggu .Kondisi gawat darurat yang dimaksud mencakup situasi yang mengancam keselamatan ibu maupun bayi, antara lain:Dalam kasus seperti ini, rumah sakit wajib memberikan pelayanan dan BPJS Kesehatan tetap menanggung biaya sesuai ketentuan.Baca juga: Berapa Kali BPJS Bisa Digunakan dalam Sebulan?Sesuai regulasi yang masih berlaku sampai hari ini, BPJS Kesehatan memberikan jaminan untuk proses persalinan, baik persalinan normal pervaginam (melalui vagina) maupun melalui operasi caesar.Kendati demikian, khusus persalinan normal pervaginam tanpa penyulit, diutamakan dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama atau FKTP, seperti puskesmas atau klinik dokter.Sementara, untuk biaya melahirkan ditanggung BPJS Kesehatan di rumah sakit, hanya dapat dilakukan sesuai indikasi medis berdasarkan rujukan dari FKTP. Oleh karena itu, jika tanpa penyulit, ibu hamil diarahkan untuk melahirkan di FKTP tempatnya terdaftar.Sementara bila peserta datang ke rumah sakit untuk bersalin tanpa rujukan dan tidak termasuk kondisi gawat darurat, peserta diminta kembali ke FKTP atau mendapatkan rujukan terlebih dahulu.Opsi lainnya, persalinan tetap dilayani, tetapi harus membayar mandiri alias bukan melahirkan ditanggung BPJS Kesehatan.Peserta akan dikenakan tarif umum, karena BPJS Kesehatan baru bisa menanggung bila ada rujukan atau ada indikasi darurat.Ketentuan melahirkan di rumah sakit dengan BPJS tanpa rujukan bisa dilakukan asalkan pasien dalam kondisi gawat darurat sehingga butuh penanganan cepat.Baca juga: Berapa Kali Skrining BPJS Kesehatan dalam Setahun?(Tim penulis: Diva Lutfiana Putri, Irawan Sapto Adhi).Artikel ini juga bersumber dari pemberitaan di berjudul: "BPJS Kesehatan Luruskan Kabar Melahirkan Normal Tak Lagi Ditanggung, Ini Aturan Mainnya".


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Irwan mengaku bersyukur atas penghargaan yang telah diraih. Ia menekankan bahwa fokus utama perusahaan dimulai dari internal, yaitu kebahagiaan dan kesehatan karyawan, sebelum meluas ke masyarakat.“Ketika saya ditanya dewan juri, saya sampaikan bahwa fokus utama kami adalah membahagiakan dan menjaga kesehatan karyawan terlebih dahulu. Kalau karyawan yang dekat dengan kami saja tidak sehat dan bahagia, bagaimana kami bisa mengurus masyarakat yang lebih luas.” ujar Irwan kepada Kompas.com, Rabu.Irwan menambahkan, penghargaan yang diraih pihaknya  merupakan kerja kolektif seluruh karyawan dan tim.“Persyaratannya sangat banyak, ada 17 goals dan 169 target. Mustahil dicapai tanpa komitmen bersama,” kata Irwan.Pihaknya pun senantiasa mendorong seluruh elemen perusahaan berpartisipasi dalam berbagai upaya pencapaian SDGs, terutama terkait kesejahteraan sosial dan pengentasan kemiskinan.Baca juga: Anggota Komisi IX DPR Kagumi Standar Produksi Sido MunculSido Muncul juga menegaskan komitmennya untuk membantu program nasional, melalui program penanganan stunting dan tidak mengambil bagian dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).“Kami memilih memberikan bantuan berupa dana agar ibu-ibu bisa membeli kebutuhan gizi yang sesuai. Tahun depan kontribusi kami akan ditingkatkan,” katanya./Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat memegang piala penghargaan Terbaik I kategori Badan Usaha Besar Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 berkat keberhasilan program Smartani. Program Smartani yang mengantarkan Sido Muncul meraih juara pertama merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang mencakup sektor hulu hingga hilir. Program ini telah diinisiasi sejak 2021 dan menyasar kelompok tani di wilayah Semarang.Saat ini, sedikitnya 3.000 petani dan peternak telah mendapat pendampingan dari Sido Muncul.“Di tingkat hilir, kami membina karyawan untuk menjadi distributor. Sekarang ada sekitar 60 hingga 70 distributor yang dulunya karyawan kami dan kini sudah mandiri,” ungkap Irwan.Baca juga: Hadirkan Terang, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak GratisManajer Lingkungan Sido Muncul, Amri Cahyono, menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap SDGs diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat.Ia menyampaikan bahwa perusahaan secara konsisten memperkuat kontribusi terhadap 17 tujuan SDGs.“Program Smartani kami gagas untuk mewujudkan visi perusahaan, yaitu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Hingga saat ini, Sido Muncul telah memenuhi seluruh 17 tujuan SDGs,” ujarnya.Amri menjelaskan bahwa Smartani di Desa Bergas Kidul, Kecamatan Bergas, Semarang, dikembangkan dengan pendekatan nature-based solution. Implementasinya dimulai dengan social mapping untuk memetakan potensi lokal.“Di desa ini ada kelompok petani alpukat, peternak sapi perah, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) ‘Mbok Jajan’ yang sebelumnya terdampak Covid-19. Kami memberikan pelatihan agar mereka dapat kembali produktif, dan kini produk mereka sudah memasok ke Sido Muncul,” terang Amri.Baca juga: Konsisten Bantu Tangani Katarak, Sido Muncul Kembali Raih Perdami Award/Yakob Arfin T Sasongko Direktur Sido Muncul, Dr (HC) Irwan Hidayat bersama tim dalam ajang Indonesia?s SDGs Action Awards 2025 di Jakarta, Rabu .

| 2026-01-17 05:04