Indonesia Pacu Pengembangan Bioetanol sebagai Solusi Energi Hijau demi Kemandirian Nasional

2026-02-03 23:21:52
Indonesia Pacu Pengembangan Bioetanol sebagai Solusi Energi Hijau demi Kemandirian Nasional
Jakarta - Pemerintah Indonesia bersama pemangku kepentingan energi nasional terus mempercepat peta jalan transisi energi dengan mengoptimalkan penggunaan bahan bakar nabati.Salah satu fokus utama ini adalah pengembangan bioentanol, sebuah langkah strategis yang sebenarnya memiliki rekam jejak sejarah cukup panjang di yanah air namun kini mendapatkan momentum baru.Bioetanol dipandang sebagai kunci ganda, solusi untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah sekaligus instrumen vital untuk menekan emisi karbon di sektor transportasi.AdvertisementDilansir dari laman resmi Pertamina www.onesolution.pertamina.com, Rabu , sejarah bioetanol di Indonesia bukanlah hal baru.Melainkan perjalanan yang telah dirintis sejak dikeluarkannya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006, tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel).Sejak saat itu, berbagai regulasi turunan diterbitkan untuk mendorong penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM).Langkah ini diambil mengingat potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah, khususnya tanaman penghasil gula dan pati seperti tebu, singkong, dan jagung yang menjadi bahan baku utamanya.Meskipun sempat mengalami pasang surut dalam implementasinya dibandingkan biodiesel (B35), bioetanol kini kembali menjadi prioritas dengan pelundcuran produk seperti Pertamax Green 95 yang mengandung campuran etanol 5 persen (E5) hingga target E10 di masa depan.Pengembangan ini juga disadari oleh kebutuhan untuk mengingatkan kualitas udara. Bioetanol dikenal memiliki angka oktan (RON) yang tinggi, dapat meningkatkan pembakaran mesin menjadi lebih sempurna dan mengurangi emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida.Dengan menggabungkan potensi agraris nusantara dan teknologi pengolah modern, Indonesia berambisi menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, di mana petani tebu hasi dan industrinya energi berjalan beriringan dalam menyongkong ketahanan energi nasional.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-03 22:20