Tongkonan Berusia 300 Tahun Dirobohkan, Rumah Adat Toraja yang Penuh Makna

2026-01-12 04:39:26
Tongkonan Berusia 300 Tahun Dirobohkan, Rumah Adat Toraja yang Penuh Makna
- Kericuhan yang terjadi dalam proses eksekusi lahan adat di Tongkonan Ka’pun, Kelurahan Ratte Kurra, Kecamatan Kurra, Tana Toraja, pada Jumat bukan sekadar konflik lahan biasa.Pembongkaran enam lumbung padi (alang), tiga tongkonan, dan dua rumah semi permanen menggunakan alat berat memantik penolakan keras dari warga.Kompas.com memberitakan, salah satu tongkonan yang dirobohkan disebut berusia lebih dari 300 tahun, mewarisi sejarah panjang keluarga besar Tongkonan Ka’pun.Baca juga: Wings Air Kembali Terbang Makassar-Toraja PP, Ini JadwalnyaPerlawanan warga dalam eksekusi tersebut membuka kembali diskusi penting: apa sebenarnya tongkonan dalam kehidupan masyarakat Toraja? Mengapa pembongkarannya memicu reaksi emosional dan sosial yang begitu kuat?Dilansir dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Toraja Utara, tongkonan adalah rumah adat suku Toraja yang memiliki makna mendalam, lebih daripada bangunan tempat tinggal.Dalam bahasa Toraja, tongkonan berasal dari kata tongkon atau duduk, menandakan tempat musyawarah, tempat bermukim keluarga besar, sekaligus pusat kehidupan komunal.Secara fisik, tongkonan merupakan rumah panggung berbentuk persegi panjang dengan tiga struktur utama:Tiga bagian ini merefleksikan kosmologi masyarakat Toraja dalam ajaran Aluk Todolo, yang melihat kehidupan sebagai harmoni antara tiga lapisan alam.Tongkonan bukan bangunan yang muncul dalam bentuknya sekarang secara tiba-tiba. Arsitekturnya berkembang dalam empat tahap:Perkembangan ini menunjukkan bahwa tongkonan memiliki sejarah panjang yang melekat pada perjalanan masyarakat Toraja.Setiap tongkonan dihias ukiran khas Toraja. Ukiran-ukiran itu bukan hiasan semata, tetapi penanda status sosial dan identitas marga.Seseorang dapat diketahui latar belakang marganya hanya dengan mengetahui asal tongkonannya.canva.com ilustrasi rumah adat tongkonan.Tongkonan bukan hanya rumah, tetapi juga:Secara filosofis, semua tongkonan selalu menghadap utara. Dalam kepercayaan Toraja, arah utara adalah ulunna lino (kepala dunia) tempat bersemayam Puang Matua, sang pencipta.Dengan menghadap ke arah utara, tongkonan diharapkan selalu menerima berkah dari sang pencipta.


(prf/ega)