Jakarta - Banjir bandang, longsor, dan rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah Sumatera menjadi tanda jelas bahwa alam sedang memberi peringatan keras. Hutan-hutan yang dulu rapat dan basah oleh humus kini terbuka lebar, tercabik oleh pembukaan kebun dan penebangan pohon yang masif.Sungai-sungai yang dulu tenang berubah menjadi arus liar membawa lumpur dan puing. Ketika akar-akar pepohonan tak lagi memegang tanah, desa-desa tenggelam, dan hidup-hidup manusia kehilangan pijakan.Di tengah situasi itu, di antara deru mesin gergaji dan suara banjir yang membawa duka, ada sosok perempuan yang memilih berdiri sebagai penjaga. Teguh Santika (44), perempuan adat Suku Batin Sembilan. Dia yang menolak menyerah pada kerusakan. Baginya, menjaga hutan bukan slogan, tapi soal mempertahankan rumah, kehidupan, dan masa depan anak cucu.AdvertisementLahir, tumbuh besar, menikah, hingga memiliki anak di tengah rimbunnya pepohonan tropis, Bi Teguh, panggilannya, seperti menyatu dengan hutan. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melindunginya.“Sayo dari kecil, dibesarkan dan sampai punya suami ya tetap di hutan ini. Sampai bibi punya cucu nanti yo tetap di sini (hutan),” tutur Bi Teguh, beberapa waktu lalu, dengan logat khas Batin Sembilan yang begitu kental.
(prf/ega)
Bi Teguh, Benteng Terakhir Hutan Harapan di Tengah Banjir Bandang Sumatera
2026-01-12 17:45:33
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 17:08
| 2026-01-12 15:57
| 2026-01-12 15:56
| 2026-01-12 15:44










































