Kisah Ed Bambas, Kasir Berusia 88 Tahun yang Dapat Rezeki Nomplok Rp 29 Miliar

2026-01-12 15:31:15
Kisah Ed Bambas, Kasir Berusia 88 Tahun yang Dapat Rezeki Nomplok Rp 29 Miliar
– Ed Bambas tak menyangka hidupnya akan berubah drastis di usia 88 tahun. Pria yang bekerja sebagai kasir di sebuah toko swalayan di Brighton, Michigan, Amerika Serikat itu tiba-tiba mendapat rezeki nomplok senilai 1,77 juta dollar AS, atau sekitar Rp 29 miliar.Hadiah itu datang dari seorang pemuda asal Australia yang menggalang dana lewat media sosial, setelah bertemu langsung dengan Bambas di tempatnya bekerja.Momen haru itu terjadi pada Jumat . Bambas menerima sebuah cek raksasa di hadapan awak media. Matanya berkaca-kaca, tangisnya tak tertahan.Baca juga: Strategi Perlindungan Lansia dari Virus di Daerah Bencana“Tidak, tidak. Terima kasih. Ya Tuhan,” ujarnya lirih sambil menyeka air mata, sebagaimana diberitakan AP News pada Sabtu .Pertemuan antara Ed Bambas dan pemuda bernama Sam Weidenhofer (22) terjadi dua pekan sebelumnya di toko Meijer, tempat Bambas bekerja.Sam, seorang konten kreator asal Melbourne yang punya lebih dari 10 juta pengikut di berbagai platform media sosial, merekam percakapan mereka dan membagikannya ke TikTok. Video itu langsung menyentuh hati jutaan orang.Dalam video tersebut, Bambas yang merupakan pensiunan General Motors, mengaku tetap bekerja di usia senja karena kesulitan keuangan setelah istrinya, Joan, wafat akibat sakit kronis pada 2018.“Penghasilan saya tidak cukup,” kata Bambas singkat dalam video itu.Baca juga: Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Sumatera, dari Dosa Ekologis hingga Anomali SiklonMelihat kondisi Bambas, Sam kemudian menginisiasi kampanye penggalangan dana melalui GoFundMe. Ia mengajak masyarakat dunia untuk ikut membantu.“Kisah Pak Bambas mengingatkan kita bahwa banyak lansia, terutama veteran, harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup,” tulis Sam.Respons publik sungguh luar biasa. Lebih dari 15.000 orang berdonasi, mulai dari 10 dollar AS (sekitar Rp 166 ribu) hingga 10.000 dollar AS (Rp 166 juta).Dengan total dana yang terkumpul, Bambas dapat langsung melunasi utang pribadinya yang mencapai 225.000 dollar AS (sekitar Rp 3,7 miliar). Sisanya? Bebas digunakan sesuai keinginan Bambas.Ed Bambas memulai pekerjaan sebagai kasir di Meijer pada usia 82 tahun. Bukan hanya untuk mencari penghasilan, tetapi juga sebagai pelarian dari duka mendalam setelah ditinggal sang istri tercinta.“Saya bicara dengan semua pelanggan di kasir. Itu membantu saya mengatasi rasa kehilangan. Saya membagikan sedikit kisah hidup saya kepada mereka,” ujarnya.Seorang mantan pelanggan bernama Lexi Wallace (26) bahkan sempat menghubungi Sam lewat Facebook untuk memastikan pria yang dimaksud dalam video TikTok itu adalah Bambas.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-12 14:22