SEMARANG, - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan bahwa bencana besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November lalu disebabkan oleh kombinasi tiga faktor utama.“Tiga faktor penting tadi mulai dari antropogenik kita yang tidak bersahabat dengan alam, kemudian geomorfologi kita, dan yang terakhir hidrometeorologi dari perubahan iklim,” kata Hanif dalam sambutannya pada acara UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, Selasa .Menurut Hanif, ketiga faktor ini berkontribusi terhadap bahaya ekstrem yang berisiko menimbulkan korban jiwa.Adapun bencana banjir dan longsor di tiga provinsi ini menewaskan lebih dari 1.000 orang dan 200 orang lainnya masih hilang. Baca juga: Bencana Sumatera, Menteri LH Evaluasi Tata Ruang dan Perintahkan Audit Lingkungan di 3 Provinsi“Bahaya ekstrem ini kemudian menimbulkan korban jiwa karena beberapa hal. Pertama, memang karena curah hujan yang cukup sangat tinggi,” ucapnya.Lebih lanjut, Hanif menjelaskan bahwa bahaya ekstrem tersebut diperparah oleh infrastruktur yang tidak ramah lingkungan dan kurangnya kesiapsiagaan masyarakat.“Kedua karena infrastruktur kita tidak bersahabat dengan alam. Kemudian kita belum siap menghadapi bencana semacam ini,” ujarnya.Hanif juga menyoroti budaya bermukim masyarakat di wilayah rawan bencana, seperti bantaran sungai dan lereng bukit.Baca juga: Di Balik Dentuman Musik Dipha Barus, Doa untuk Sumatera Menggema di DWP 2025KOMPAS.COM/MASRIADI SAMBO Salah satu rumah korban banjir di Desa Ulee Rubek Barat, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (3/12/ 2025).“Budaya bangsa kita yang masih hidup di daerah-daerah rawan bencana seperti di sungai dan di tebing-tebing bukit. Ini semua yang harus kita dalami hari ini,” tuturnya.Dari segi geomorfologi, Hanif menyatakan bahwa kondisi Sumatra bagian Utara saat ini tidak stabil."Mulai dari antropogenik kita, dari kultur kita, budaya kita yang telah melakukan kegiatan deforestasi yang cukup luas," bebernya.Sementara itu, dari faktor hidrometeorologi, Hanif menyoroti bahwa kondisi nyata dapat dilihat dari siklon atau topan yang jarang terjadi di daerah dengan lintang rendah, termasuk Indonesia.Baca juga: Banjir Sumatera, Menteri LH Bakal Sanksi dan Gugat Perdata Sejumlah Perusahaan"Kita berada di daerah tropis. Kemudian kita merupakan daerah kepulauan. Sehingga dengan demikian kita merupakan negara yang sangat riskan dengan perubahan iklim ini," katanya.Hanif menegaskan bahwa situasi ini merupakan momentum yang tepat untuk merenungkan akar penyebab bencana di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.“Inilah yang kemudian mengharuskan kami diskusi dengan teman-teman universitas untuk mengkaji ulang kajian lingkungan hidup strategis, sebagai landasan penyusunan tata ruang di provinsi ketiga provinsi tersebut. Kami sudah memberikan keputusan menteri untuk melakukan evaluasi pada tiga provinsi tersebut,” ungkapnya.
(prf/ega)
Bencana Sumatera, Menteri LH Ungkap 3 Faktor Pemicu Bahaya Ekstrem dan Korban Jiwa
2026-01-12 04:52:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 16:14
| 2026-01-12 15:58
| 2026-01-12 15:27
| 2026-01-12 14:50










































