Pengakuan Mossad, Presiden Somaliland Sempat Berkunjung ke Israel Dua Bulan Lalu

2026-01-12 04:46:57
Pengakuan Mossad, Presiden Somaliland Sempat Berkunjung ke Israel Dua Bulan Lalu
- Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi sempat melakukan kunjungan rahasia ke Israel pada Oktober 2025.Hal itu dikonfirmasi oleh kepala Mossad, David Barnea dan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dikutip dari Times of IsraelDalam pertemuan itu, Abdirahman juga mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.Laporan ini muncul usai Israel menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Somaliland.Baca juga: Sejarah Somaliland, Negara yang Baru Saja Diakui IsraelMenurut laporan tersebut, hubungan Israel-Somaliland awalnya muncul di tengah diskusi tentang potensi relokasi warga Palestina dari Jalur Gaza ke Somaliland.Isu tersebut sempat mencuat ke publik pada Agustus 2025. Namun, Channel 12 mengatakan, hubungan tersebut kemudian meluas jauh melampaui topik itu.Para pejabat Israel menyebut pembicaraan itu berkembang menjadi kerja sama strategis.Dari perspektif Israel, motivasi utama untuk memperdalam hubungan kedua negara adalah kedekatan geografis Somaliland dengan Yaman, basis kelompok Houthi.Karena itu, hubungan tersebut menjadi sangat penting di tengah kekhawatiran keamanan regional Israel yang berkelanjutan.Baca juga: Jika Israel Manfaatkan Wilayah Somaliland, Kelompok Al Shabaab Siap BerperangUntuk diketahui, Israel secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat pada Jumat .Ini merupakan pengakuan pertama yang diterima Somaliland sejak memisahkan diri dari Somalia pada 1991.Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan, pihaknya telah menandatangani deklarasi bersama yang menetapkan hubungan diplomatik penuh dengan Somaliland.Ia juga menggambarkan deklarasi itu sebagai semangat Kesepakatan Abraham, sebuah perjanjian yang ditengahi oleh Amerika Serikat untuk membangun hubungan diplomatik Israel dengan negara-negara Arab.Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan kesepakatan itu merupakan hasil dialog ekstensif selama setahun antara kedua negara."Kita akan bekerja sama untuk meningkatkan hubungan antar negara dan bangsa kita, stabilitas regional, dan kemakmuran ekonomi," ujarnya.Pengakuan Israel pun ditentang oleh banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan China.


(prf/ega)