Fakta Baru Penembakan Bondi Beach: Keluarga di India Tak Tahu Pelaku Radikal

2026-01-17 08:13:59
Fakta Baru Penembakan Bondi Beach: Keluarga di India Tak Tahu Pelaku Radikal
– Keluarga Sajid Akram, salah satu pelaku penembakan yang menewaskan 15 orang di acara Hanukkah di Bondi Beach, Sydney, mengaku tak mengetahui bahwa ia telah terpapar paham radikal.Pihak kepolisian India menyatakan bahwa keluarga Sajid di negara bagian Telangana, India selatan, memiliki kontak yang sangat terbatas dengannya sejak ia pindah ke Australia pada 1998.“Dia hanya enam kali pulang ke India, kebanyakan untuk mengurus urusan properti atau mengunjungi orangtua yang sudah lanjut usia. Ia bahkan tidak hadir saat pemakaman ayahnya,” ujar seorang pejabat kepolisian Telangana kepada BBC.Baca juga: Tragedi Bondi Beach: Jadi Serangan Teroris Tersadis sejak 1996Pihak keluarga juga mengaku tidak mengetahui pola pikir atau aktivitas Sajid yang mengarah pada radikalisasi.Dalam pernyataannya, polisi India menegaskan bahwa proses radikalisasi Sajid Akram tidak dipengaruhi oleh lingkungan di India maupun faktor lokal di Telangana.Sebelum pindah ke Australia, Sajid diketahui menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang perdagangan dan tidak memiliki catatan kriminal.Ia kemudian menikah dengan perempuan asal Eropa dan memiliki dua anak, keduanya berkewarganegaraan Australia.Sajid Akram disebut melancarkan serangan di Bondi bersama putranya, Naveed Akram (24). Sajid tewas ditembak polisi saat kejadian pada Minggu .Sementara Naveed sempat kritis dan kini dirawat di rumah sakit setelah siuman pada Selasa .Naveed telah didakwa dengan 15 tuduhan pembunuhan. Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon, menyebut penyelidik kini menunggu kondisi Naveed stabil dan ia memperoleh penasihat hukum sebelum bisa diinterogasi.Baca juga: Australia Perketat Aturan Senjata Api Usai Penembakan Bondi Beach, Seperti Apa Rencananya?Pihak berwenang Australia mengungkap bahwa Sajid dan Naveed sempat menghabiskan hampir seluruh bulan November di Filipina.Dikutip dari The Independent pada Rabu , sumber keamanan menduga kunjungan tersebut berkaitan dengan pelatihan bergaya militer.Pihak Imigrasi Australia menyebut Sajid masuk Filipina menggunakan paspor India dan mencantumkan Davao sebagai tujuan.Dana Sandoval, juru bicara imigrasi Australia, turut membenarkan informasi tersebut.Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyatakan, penembakan massal ini diduga kuat dimotivasi oleh ideologi ekstremis. Ia menyebut keterkaitannya dengan paham ISIS.Media setempat melaporkan, Naveed pernah diawasi otoritas pada 2019 atas dugaan keterlibatan dalam sel ISIS di Sydney. Namun, saat itu ia dinilai tidak menimbulkan ancaman serius atau potensi kekerasan.Sebagai respons atas tragedi tersebut, Pemerintah New South Wales akan mempercepat pengesahan undang-undang senjata api.Baca juga: 8 Fakta Penembakan Bondi Beach: Identitas Pelaku, Korban Warga Asing, dan Motif SeranganPolisi juga memperketat pengamanan di sejumlah pemakaman dan upacara peringatan di Sydney, terutama yang melibatkan komunitas Yahudi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-01-17 06:53