- Sepekan setelah terjadi banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera merenggut 604 jiwa berdasarkan data pada Senin petang.Kerusakan infrastruktur juga terjadi di beberapa kabupaten dari tiga provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.Dosen Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (Unair) program Magister Manajemen Bencana, Dr. Hijrah Saputra S.T., M.Sc membagikan pemikiran dan tanggapannya terkait bencana alami ini.Menurut Hijrah, bencana ini merupakan bagian dari sistem cuaca regional Asia Tenggara yang ekstrem dan merupakan sebab-akibat dari perubahan pola hujan.Pasalnya terjadi banjir serupa di negara tetangga.“Pemicu utamanya yaitu curah hujan ekstrem akibat siklon tropis Senyar dan bibit siklon di Selat Malaka yang juga memicu banjir besar di beberapa negara bagian Malaysia," ungkap Hijrah, dikutip dari situs Unair, Selasa ."Faktor yang memperparah di Sumatera adalah kondisi lingkungan. Seperti lereng gundul, pemukiman di sekitar sungai, drainase terbatas, dan infrastruktur vital yang belum adaptif,” imbuhnya.Baca juga: Kemendikdasmen: 1.009 Sekolah Terdampak Banjir, SD Paling BanyakHijrah juga menyoroti isu penebangan hutan yang memperparah bencana tersebut.Pohon-pohon di hulu DAS (Daerah Aliran Sungai) berperan penting dalam menyimpan cadangan air tanah dan menahan struktur tanah agar tidak terjadi longsor.Di media sosial viral video dan foto yang menunjukkan banyak kayu gelondongan terdampar di sungai dan pesisir laut daerah Sumatera."Itu bukan sekadar fenomena alam, melainkan bukti adanya aktivitas penebangan yang tidak terkendali. Penebangan hutan membuat daya serap berkurang, memperbesar limpasan air, dan meningkatkan risiko longsor,” tegas Hijrah.ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU BANJIR SUMBAR: Sejumlah warga berjalan di antara potongan kayu gelondongan yang bertumpuk di pantai Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Jumat . Sampah kayu gelondongan itu menumpuk di sepanjang pantai Padang pascabanjir bandang beberapa hari terakhir. Hijrah mengapresiasi langkah cepat pemerintah yang melakukan evakuasi dengan helikopter dan kapal perang, distribusi logistik, pemulihan listrik, hingga modifikasi cuaca.Baca juga: Unand Gelar Kuliah Daring hingga 5 Desember Pasca-banjir Namun, ia menilai pemerintah masih perlu meningkatkan antisipasi jangka panjang karena hal ini masib lemah."Sistem peringatan dini belum menjangkau desa terpencil, tata ruang belum disiplin, dan rehabilitasi lingkungan masih sporadis. Antisipasi jangka pendek mungkin sudah cepat walaupun ada beberapa titik yang sulit dijangkau secara geografis agak sedikit terlambat,” jelasnya.Langkah konkret bisa dibagi menjadi tiga tahap. Langkah pertama, jangka pendek memfokuskan 72 jam SAR, suplai logistik, dan layanan kesehatan.Kedua, jangka menengah melakukan audit kerusakan, perbaikan infrastruktur, dan relokasi warga dari zona merah.Langkah ketiga, jangka panjang dengan rehabilitasi DAS, reboisasi lereng, normalisasi sungai, integrasi mitigasi ke RPJMD.“Ini bukan sekadar takdir, tapi konsekuensi dari cara kita mengelola alam dan kesiapan sistem kita," kata Hijrah.Baca juga: 8 Kampus Aceh dan Sumatera Terdampak Banjir, Putuskan Kuliah OnlineIa menekankan, jika kita ingin mengurangi korban di masa depan, maka ketahanan harus dibangun dari disiplin tata ruang, ekologi DAS, dan sistem peringatan dini yang terintegrasi secara regional.
(prf/ega)
Viral Kayu Gelondongan di Banjir Sumatera, Pakar Unair: Bukti Adanya Penebangan Tak Terkendali
2026-01-12 03:40:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:24
| 2026-01-12 04:03
| 2026-01-12 02:12
| 2026-01-12 02:09
| 2026-01-12 02:01










































