Waspada Cuaca Ekstrem di Sumsel Saat Nataru, BMKG Prediksi Hujan Lebat hingga 1 Januari 2026

2026-01-14 04:10:55
Waspada Cuaca Ekstrem di Sumsel Saat Nataru, BMKG Prediksi Hujan Lebat hingga 1 Januari 2026
PALEMBANG,  - Sejumlah wilayah di Kabupaten/ kota Sumatera Selatan berpotensi mengalami cuaca ekstrem berupa  hujan deras disertai angin kencang ketika memasuki Natal dan Tahun Baru (Nataru).Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan mencatat, 19-21 Desember 2025 cuaca ekstrem terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Banyuasin, kota Palembang, Musi Banyuasin (Muba), Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), OKU, Muara Enim, Lahat dan Pagar Alam. Kemudian, pada 22-25 Desember 2025 kondisi yang sama juga diperkirakan akan berlangsung di wilayah Muba, Mura, Muratara, Palembang, Banyuasin, termasuk Prabumulih. Baca juga: Hujan Berdurasi Lama Diprakirakan Landa Sumatera Utara, BMKG Minta Warga SiagaKepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Siswanto mengatakan, cuaca ekstrem tersebut terjadi karena dipengaruhi oleh fenomena aktifnya gelombang Equatoria Kelvin di Indonesia, serta adanya pola konvergensi dan belokan angin yang mempercepat pertumbuhan awan hujan.Selain itu, Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase negatif dengan indeks mencapai -0.26. Angka tersebut, menjadi indikasi ada penumpukan uap air yang memicu peningkatan awan hujan di Indonesia bagian barat. “Kondisi global tersebut turut berperan dalam perubahan cuaca di Sumsel, sehingga terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dibarengi petir dan angin kencang,”kata Siswanto, Senin .Baca juga: BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di NTT hingga 28 Desember 2025Siswanto menjelaskan, curah hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi pada periode 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026. Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan lokasi rawan terjadinya longsor pun diminta waspada."Kami menyarankan masyarakat yang bermukim di zona rawan untuk selalu memantau perkembangan cuaca terkini melalui kanal BMKG sebelum merencanakan aktivitas di luar rumah,”ujarnya.Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel juga mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di lereng perbukitan maupun bantaran sungai untuk waspada memasuki puncak musim hujan. Baca juga: BMKG Ingatkan Ancaman Banjir dan Longsor di Jateng Akhir Desember 2025, Ini Daftar Wilayah RawannyaTerpisah, Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman mengungkapkan, masyarakat diminta untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa maupun tim tanggap bencana di daerah untuk memberikan informasi jika ada perubahan dan peningkatan debit air ataupun tanda bencana. Saat ini, sudah ada 10 wilayah yang menetapkan siaga darurat bencana. Daerah tersebut adalah, OKU, Pagar Alam, Prabumulih, Muba, Ogan Ilir, Muratara, OKI, Lubuk Linggau, OKU Selatan, dan Banyuasin. “Dengan adanya status siaga ini, seluruh fokus penanganan bencana akan dimaksimalkan di daerah tersebut. Diharapkan dampak bencana hidrometeorologi dapat diminimalkan, serta keselamatan masyarakat di wilayah Sumsel dapat lebih terjaga," ujar Sudirman, Senin . Baca juga: Bibit Siklon 93S Diprediksi Meningkat Jadi Siklon Tropis Kategori 2, BMKG Keluarkan PeringatanBPBD Sumsel mencatat, sepanjang Januari hingga 17 Desember 2025, terdapat 259 kejadian bencana. Bencana alam tersebut didominasi banjir sebanyak 98 kali, angin kencang 81 kali, kebakaran permukiman 52 kali, tanah longsor 24 kali, angin puting beliung tiga kali dan banjir bandang satu kali. Akibat bencana itu, sebanyak 156 unit bangunan rusak berat, 81 rusak sedang dan 336 rumah rusak ringan, serta 62.800 rumah terendam. Tak hanya rumah warga dan fasilitas publik yang terdampak, ribuan hektare (ha) lahan pertanian dan ratusan ha lahan perkebunan terendam. "Total ada 37.655 KK terdampak, 205 KK mengungsi, 7 jiwa luka-luka, dan 3 jiwa meninggal dunia. Sedangkan dampak lainnya 2.154 ha sawah terendam dan 374,5 ha perkebunan terdampak," jelasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-14 07:46