Mengapa Ponorogo Disebut Bumi Reog? Simak Sejarahnya

2026-01-12 04:46:37
Mengapa Ponorogo Disebut Bumi Reog? Simak Sejarahnya
- Ponorogo, sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, dikenal luas sebagai Kota Reog atau Bumi Reog. Julukan ini tak lepas dari kekayaan budaya yang dimiliki daerah ini, terutama kesenian tradisional Reog Ponorogo, yang menjadi identitas khas masyarakatnya.Selain itu, Ponorogo juga terkenal sebagai Kota Santri karena keberadaan banyak pondok pesantren, termasuk Pondok Modern Darussalam Gontor di Desa Gontor, Kecamatan Mlarak.Namun, di balik kesenian Reog yang memikat dan julukan santri, terdapat sejarah panjang yang menjadikan Ponorogo sebagai kota dengan identitas budaya dan spiritual yang kuat.Baca juga: Sehari Sebelum OTT Ponorogo, Bupati Sugiri Gelar Rapat Soal Pemerintahan BersihSejarah Ponorogo tak bisa dilepaskan dari Bathoro Katong, atau dikenal juga sebagai Raden Katong, tokoh yang dinobatkan sebagai adipati pertama Kadipaten Ponorogo.Menurut buku Babad Ponorogo karya Poerwowidjojo (1997), Bathoro Katong memiliki nama asli Lembu Karnigoro, putra kelima Prabu Brawijaya V sekaligus adik Raja Demak, Raden Patah.Agar masyarakat yang masih menganut Hindu-Buddha dapat menerima kehadirannya, Raden Patah memberi nama Bathoro Katong.Nama Bathoro Katong berasal dari kata “batara” yang berarti dewa dan “katon” yang berarti menampakkan diri, sehingga secara harfiah berarti dewa yang mewujud dalam bentuk manusia.Baca juga: Asal-usul Ponorogo, dari Bathoro Katong yang Mendirikan Kadipaten Pramana RagaKedatangan Bathoro Katong di wilayah Wengker menjadi titik awal berdirinya Ponorogo. Ia memilih lokasi yang kini berada di Dusun Plampitan, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, karena dianggap memenuhi syarat untuk pemukiman.Dengan ditemani Selo Aji, Ki Ageng Mirah, dan pengikutnya, Bathoro Katong mulai membangun pemukiman serta melakukan konsolidasi wilayah sejak 1482 Masehi.“Antara tahun 1482-1486 M, Raden Bathoro Katong mulai menyusun kekuatan dan melakukan pendekatan dengan Ki Ageng Kutu serta seluruh penduduknya. Dengan dukungan banyak pihak, akhirnya Kadipaten Ponorogo berdiri pada 11 Agustus 1496 Masehi, dan Bathoro Katong menjadi adipati pertama,” tulis Poerwowidjojo.Tanggal ini kini diperingati sebagai Hari Jadi Kota Ponorogo, yang ditetapkan berdasarkan kajian benda purbakala dan sumber sejarah seperti Handbook of Oriental History.DOK KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF Festival Nasional Reog Ponorogo 2023, Aloon-Aloon Ponorogo, Jawa Timur, . Reog Ponorogo menjadi Warisan Budaya Tak Benda UNESCO. Nama Ponorogo berakar dari musyawarah antara Bathoro Katong, Kyai Mirah, Selo Aji, dan Joyodipo. Mereka sepakat menamai wilayah baru ini Pramana Raga, yang kemudian berubah menjadi Ponorogo.“Pramana” berarti daya kekuatan, rahasia hidup, permono, atau wadi, sedangkan “Raga” berarti badan atau jasmani. Gabungan keduanya mengandung makna mawas diri, atau kemampuan mengendalikan diri dan sifat batin agar dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun.Selain sejarahnya yang kaya, Ponorogo terkenal dengan kesenian Reog Ponorogo. Kesenian ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga simbol identitas budaya dan spiritual masyarakat Ponorogo.Setiap tahun, pada bulan Suro, Ponorogo menggelar Grebeg Suro, pesta rakyat yang menampilkan Festival Reog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, serta Larungan Risalah Doa di Telaga Ngebel.


(prf/ega)