Aktivitas Tambang Ancam Wisata Hiu Paus di Kawasan Konservasi Teluk Gorontalo

2026-02-04 13:02:26
Aktivitas Tambang Ancam Wisata Hiu Paus di Kawasan Konservasi Teluk Gorontalo
GORONTALO, – Aktivitas tambang di perbukitan sekitar Botubarani dinilai menjadi ancaman bagi kelestarian wisata hiu paus di kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo.Abdul Wahab Matoka, warga Desa Botubarani, menceritakan bagaimana material longsor dari aktivitas tambang berupa batu, lumpur, dan kayu menerjang lokasi wisata hiu paus pada tahun 2024.“Saya menyaksikan sendiri, berada di lokasi saat banjir yang membawa batuan, kayu dan lumpur menghantam wisata hiu paus,” kata Abdul Wahab Matoka yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Hiu Paus Botubarani Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, Selasa .Baca juga: Fenomena Aneh: Hiu Paus Muda Makin Sering Terdampar di Indonesia, Naik Lima Kali Lipat Sejak 2020Kisah  ini ia sampaikan pada presentasi kajian pengelolaan tambang mineral bukan logam dan dampaknya terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi yang dilaksanakan oleh Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo.Abdul Wahab menceritakan bagaimana banjir yang membawa material batuan ini bahkan merusak bangunan pos wisata di lorong tiga yang terbuat dari kayu.Lumpur dan batu terseret air bergemuruh turun dari sisi atas Dusun Tamboo Barat menuju pantai, melewati sungai yang penuh sedimen sebelum tumpah di perairan Botubarani yang masuk kawasan konservasi perairan Teluk Gorontalo.Untuk mengatasi limpahan material ini, para pelaku wisata melakukan mohuyula (gotong royong) membersihkan lokasi dengan menyewa alat berat.“Sekitar sepekan setelah banjir hiu paus tidak muncul,” ujar Abdul Wahab Matoka.Baca juga: Wisata Hiu Paus Gorontalo Disorot Konten Kreator, Benarkah Bentuk Eksploitasi?Ketidakmunculan ikan raksasa ini berarti kerugian bagi nelayan dan pelaku wisata di desa ini, mereka menganggur dan mengisi hari-hari dengan menata kembali tempat wisata ini.Cerita pelaku wisata ini merupakan ancaman nyata akibat aktivitas tambang batu di sisi atas Desa Botubarani.Ketua tim peneliti Raghel Yunginger dalam paparan kajiannya mengungkapkan, tambang batuan ini berdampak langsung terhadap lingkungan karena mengakibatkan sekitar 1,7 km sungai terdampak sedimentasi.Sebagian besar segmen sungai yang mengalami sedimentasi berada pada jarak sekitar 100 meter dari titik bukaan lahan utama.“Tebing dengan pelapukan batuan yang menghasilkan material lepas, tidak kompak (unconsolidated), dan ini dapat memicu gerakan tanah saat curah hujan dan mudah terbawa aliran air hujan,” tutur Raghel.Raghel juga mengakui bahwa keberadaan tambang memberi manfaat kesempatan kerja lokal, kenaikan pendapatan masyarakat, dan tumbuhnya usaha jasa pendukung.Namun riset ini juga mencatat dampak sosial ekonomi.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Meski membawa teknologi kamera baru, rumor menyebut jumlah kamera belakang Xiaomi 17 Ultra justru dipangkas menjadi tiga, dari sebelumnya empat kamera pada Xiaomi 15 Ultra.Selain sensor 200 MP, ponsel ini diperkirakan mengusung kamera utama 50 MP serta kamera ultrawide 50 MP.Xiaomi juga dirumorkan bakal menjadi produsen pertama yang menghadirkan Leica APO zoom camera di ponsel. Teknologi ini diklaim mampu menghasilkan warna lebih akurat, detail lebih tinggi, serta performa makro yang lebih baik, termasuk dalam kondisi cahaya rendah.Di luar sektor kamera, Xiaomi 17 Ultra diperkirakan akan ditenagai chipset tercanggih Qualcomm saat ini, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5. Chipset tersebut bakal dipadukan dengan layar OLED berukuran 6,85 inci yang mendukung resolusi tinggi dan refresh rate tinggi.Baca juga: HP Xiaomi Redmi Note 15 Series Meluncur Global, Ini SpesifikasinyaDari sisi daya, ponsel ini dirumorkan mengusung baterai berkapasitas 7.000 mAh, meningkat dari 6.000 mAh pada generasi sebelumnya, dengan dukungan pengisian cepat hingga 100 watt.Soal desain, Xiaomi 17 Ultra disebut tidak banyak berubah dari pendahulunya. Ponsel ini dikabarkan tetap mengusung layar datar tanpa tepi melengkung, serta dilengkapi pemindai sidik jari ultrasonik di bawah layar untuk menunjang keamanan.Setelah debut di China pada pekan depan, Xiaomi 17 Ultra diyakini akan meluncur ke pasar global pada kuartal pertama atau sekitar bulan Januari-Maret 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Android Headlines.

| 2026-02-04 10:58