Mayoritas Penipuan Digital Bermula dari Lemahnya Verifikasi Identitas

2026-01-12 06:11:52
Mayoritas Penipuan Digital Bermula dari Lemahnya Verifikasi Identitas
JAKARTA, - Perusahaan identitas digital PT Indonesia Digital Identity (Vida) mengatakan, sebagian besar aksi penipuan digital bermula dari lemahnya verifikasi identitas secara digital.Beberapa penipuan digital yang belakangan marak terjadi adalah lewat akun palsu, foto edit dengan artificial intelligence (AI), hingga panggilan video deep fake.Founder and Group CEO Vida Niki Luhur menjelaskan bahwa dalam tiga tahun terakhir kualitas konten manipulatif berkembang sangat cepat seiring kemajuan teknologi generatif.Baca juga: Waspada, E-tilang Jadi Modus Baru Penipuan Keuangan / AGUSTINUS RANGGA RESPATI Founder and Group CEO VIDA Niki Luhur dalam National Cybersecurity Connect 2025.Ia menceritakan, ketika pada 2023 manipulasi visual masih mudah dikenali, pada 2024 kualitasnya meningkat menjadi high quality deepfake. Tahun ini, model seperti Stable Diffusion mampu menghasilkan gambar yang tampak seperti foto profesional. Bahkan, seseorang hanya membutuhkan rekaman suara selama 15 menit untuk membuat voice clone, atau satu prompt sederhana untuk membuatfoto palsu yang tampak nyata.“Untuk bikin deepfake clone atau voice clone secara profesional, cuma perlu rekaman 15 menit. Dengan satu prompt, saya bisa bikin foto Anda di background mana pun, di konteks mana pun,” kata Niki dalam katerangan tertulis, Selasa .Niki menambahkan bahwa kasus deepfake sebagian besar berawal dari penggunaan virtual camera yang memanipulasi tampilan wajah saat proses verifikasi berlangsung.Baca juga: Lonjakan Fintech Bayangi Risiko, Laporan Penipuan Tembus Rp 7 TriliunJika sistem tidak mampu membedakan antara mana input asli dan manipulasi, identitas palsu dapat lolos dan digunakan untuk berbagai aktivitas penipuan.Selanjutnya, Niki mencontohkan adanya kasus tentang fraud device farm yang terhubung dengan sekitar 48 juta rekening secara global dan kasus peretasan aset kripto sekitar 1,5 miliar dollar AS oleh kelompok peretas yang diduga didukung negara.Di berbagai negara, cybercrime bahkan telah menjadi sumber pendapatan bagi kelompok tertentu.


(prf/ega)