Korban Banjir Aceh Singkil Kekurangan Logistik

2026-01-16 13:50:39
Korban Banjir Aceh Singkil Kekurangan Logistik
ACEH SINGKIL, – Warga korban terdampak banjir di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, kini mulai kekurangan logistik. Kebutuhan yang ada hanya tersisa cukup untuk satu hari lagi.Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala BPBD Aceh Singkil, Husni, saat dihubungi awak media dari Banda Aceh, Senin ."Stok logistik hanya tersisa untuk besok, Selasa . Kalau besok tidak ada bantuan, warga (pengungsi) terancam kelaparan," kata Husni.Husni menyebutkan, berdasarkan pendataan sementara, sejumlah jembatan dan jalan penghubung di daerah itu putus.Baca juga: Banjir dan Longsor Aceh: 156 Korban Meninggal, 1.838 TerlukaHanya beberapa wilayah jalur alternatif yang bisa dilewati menggunakan kendaraan tinggi."Kalau yang terparah, akses dari Kecamatan Singkil Utara ke Kecamatan Singkil putus total," ujarnya.Lebih lanjut, Husni mengungkapkan, sampai hari ini, belum ada bantuan yang masuk ke wilayahnya.Hanya ada bantuan dari warga Aceh Singkil yang tidak terkena dampak banjir.Selain itu, pihaknya juga masih kesulitan dalam hal koordinasi lantaran akses komunikasi dan listrik masih padam.Baca juga: Dilema Mahasiswa Aceh karena Banjir: Tak Bisa Pulang Kampung, Rumah Hancur, Orangtua Tak Bisa Dihubungi"Kami kesulitan untuk berkomunikasi, di sini, listrik padam sudah seminggu, akses komunikasi putus. Kami minta tolong agar pemerintah mempercepat pengiriman bantuan," tuturnya.Di sisi lain, dampak banjir juga telah menyebabkan kelangkaan BBM sehingga kapal yang membawa sembako juga terhenti."BBM tidak ada karena akses jalan tadi putus. Kapal yang membawa sembako ke daerah (kepulauan), yaitu Kecamatan Pulau Banyak, Pulau Banyak Barat, dan Kuala Baru juga berhenti beroperasi," tuturnya.Untuk diketahui, di Aceh Singkil terdapat 11 kecamatan yang terdampak, dengan total pengungsi 21 ribu jiwa.Akan tetapi, sebagian warga ada yang sudah kembali ke rumah masing-masing untuk melakukan pembersihan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-16 13:36