– Prosesi pemakaman Raja Keraton Kasunanan Solo, Pakubuwono XIII, digelar Rabu .Pangarso Dalem Kanjeng Pangeran Setyanto Nagoro mendapat mandat langsung dari Keraton Solo sebagai kusir kereta jenazah Pakubuwono XIII.Ia membawa kereta jenazah menuju rumah dinas Wali Kota Solo, Loji Gandrung, sebelum diteruskan ke pemakaman PB XIII di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.Baca juga: Rute Lengkap Iring-Iringan Jenazah Pakubuwono XIII dari Solo, Jogja, hingga ImogiriSetyanto menjelaskan, berbagai persiapan telah dilakukan demi kelancaran prosesi sakral tersebut.“Sejauh ini semua kereta dalam kondisi baik. Kemarin seperti kereta itu masih dibuka diberi oli roda-roda itu. Bahannya masih baik semua,” ujar Pangarso Dalem KP Setyanto Nagoro kepada Kompas.com, Selasa sore.Dalam tradisi Keraton Solo, setiap pihak yang ditugaskan membawa benda pusaka atau simbol-simbol keraton diwajibkan menjalani puasa mutih selama tujuh hari sebagai bentuk ritual menenangkan diri.Namun, karena waktu yang mendesak, Setyanto mengaku tidak sempat menjalani puasa tersebut.“Sebetulnya kalau pakai kereta di dalam itu khususnya ada ritual. Biasanya puasa mutih tujuh hari,” jelas Setyanto, seperti yang dikutip Tribunsolo, Rabu .Meski demikian, Setyanto berkomitmen untuk memastikan keselamatan kereta, kuda, dan kelancaran prosesi.Baca juga: Tradisi Brobosan, Penghormatan Terakhir Keluarga kepada Jenazah Pakubuwono XIIIDikutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, secara umum, puasa mutih adalah suatu ritual yang dilakukan dengan tidak makan maupun minum apapun, kecuali nasi putih dan air putih.Kata “mutih” berasal dari bahasa Jawa yang berarti putih atau bisa juga dimaknai bersih atau suci.Puasa mutih dalam budaya Jawa biasanya hanya dilakukan di waktu-waktu tertentu, seperti membawa kereta pusaka dan saat bulan purnama.Jangka waktu puasa mutih biasanya dalam kelipatan ganjil, seperti 3, 7, dan 41 hari.Bagi Setyanto, sebetulnya puasa mutih sebelum membawa jenazah raja Keraton Solo bukan sekedar tradisi.Ia menyebutnya sebagai cara menenangkan diri sebelum menjalankan tugas berat membawa simbol-simbol sakral keraton.
(prf/ega)
Prosesi Pemakaman Jenazah Pakubuwono XIII, Kusir: Puasa Mutih Terpaksa Ditinggalkan
2026-01-11 22:36:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:47
| 2026-01-11 21:25
| 2026-01-11 21:15
| 2026-01-11 21:10










































