Pameran Foto Au Loim Fain di Surabaya, Ketika Anak-anak Pekerja Migran Jadi Cerita Tak Terucap

2026-01-12 06:27:43
Pameran Foto Au Loim Fain di Surabaya, Ketika Anak-anak Pekerja Migran Jadi Cerita Tak Terucap
SURABAYA, - Di balik hiruk pikuk perayaan akhir tahun 2025, Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Jawa Timur menghadirkan ruang sunyi yang mengajak pengunjung berhenti sejenak.Melalui pameran foto dokumenter bertajuk "Au Loim Fain", fotografer Romi Perbawa menampilkan potret kehidupan anak-anak pekerja migran, kelompok yang kerap berada di pinggir perhatian, tetapi menyimpan persoalan kemanusiaan yang mendalam.Pameran ini digelar pada 18–22 Desember 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Imigran Internasional yang jatuh setiap tanggal 18 Desember dan Hari Ibu di tanggal 22 Desember.Baca juga: Menteri P2MI Lepas 12 Pekerja Migran ke Korsel untuk Rakit Jet KF-21Dua momentum yang secara simbolis merepresentasikan perjalanan, kehilangan, serta relasi anak dan orang tua dalam pusaran migrasi tenaga kerja.Bagi Romi, "Au Loim Fain" menjadi pameran tunggal foto dokumenternya yang pertama di Surabaya.Meskipun sebagian karyanya berasal dari buku foto yang juga pernah dipamerkan di ArtJog 2023."Daripada nganggur di rumah dan belum pernah pameran tunggal dokumenter di Surabaya, akhirnya pameran di sini," kata Romi kepada jurnalis, termasuk Kompas.com."Saya berharap dengan pameran ini bisa menginspirasi atau menumbuhkan kepedulian teman-teman semua terhadap permasalahan migran worker ini, terutama pada anak-anak. Karena di sini banyak sekali yang tidak muncul di permukaan terhadap permasalahan anak-anak yang perlu perhatian dari kita semua," tutur dia. Judul "Au Loim Fain" diambil dari bahasa Nusa Tenggara Timur yang memiliki arti "Aku Ingin Pulang".Baca juga: Pameran Foto dan Arsip Tapak Rasa Gastronomi di Salatiga, Mengungkap Proses Kreatif di Balik Sajian MakananUngkapan tersebut berasal dari kata-kata terakhir Adelina Sau, pekerja migran Indonesia yang meninggal akibat penyiksaan di Malaysia.Kalimat tersebut merepresentasikan kerinduan, kehilangan, dan keterasingan yang dialami banyak pekerja migran dan anak-anak mereka."Au Loim Fain" adalah proyek dokumenter jangka panjang yang dimulai sejak tahun 2012.Berawal dari pertemuannya dengan seorang anak pekerja migran yang memberikan ikatan emosional, membuat isu ini terus ditekuni."Saya mengetahui kehidupannya dan terpikir juga bagaimana anak-anak migran worker lainnya," kata Romi Perbawa."Saya selalu punya idealisme bahwa untuk mengubah nasib bangsa ke arah yang lebih baik harus dimulai dengan didikan anak-anak karena ini sangat penting," ucap dia.Baca juga: Meninggal di Malaysia, Jenazah Pekerja Migran Ilegal Asal NTT Dipulangkan


(prf/ega)