Seorang Sertu di Kodam XV Pattimura Terlibat Calo Rekrutmen Prajurit TNI, Jalani Proses Hukum

2026-02-04 23:01:52
Seorang Sertu di Kodam XV Pattimura Terlibat Calo Rekrutmen Prajurit TNI, Jalani Proses Hukum
AMBON, - Seorang anggota TNI dari Kodam XV Pattimura, Sertu ER diduga terlibat dalam aksi penipuan pada proses rekrutmen calon prajurit TNI. Kepala Penerangan Kodam XV Pattimura Kolonel Inf Heri Krisdianto menegaskan, saat ini Sertu SS tengah menjalani pemeriksaan oleh Staf Intelijen Kodam XV Pattimura sesuai prosedur hukum yang berlaku.Heri -dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin , juga mengklarifikasi adanya pemberitaan yang menyebut seorang perwira TNI berpangkat kapten ikut terlibat dalam kasus tersebut.Baca juga: IPK di Bawah 3,00 Bisa Daftar Rekrutmen TNI AD 2025, Ini Syarat Lengkapnya"Perlu kami klarifikasi bahwa oknum berinisial Kapten SS bukanlah anggota organik Kodam XV Pattimura, yang bersangkutan bertugas di wilayah Papua," ungkap Heri.Heri menegaskan, Kodam XV Pattimura menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme, transparansi, dan akuntabilitas. Sehingga, dia memastikan penanganan kasus tersebut akan berjalan sesuai prosedur dan tidak akan diintervensi.“Setiap oknum yang terbukti melanggar akan diproses secara tegas tanpa pandang bulu, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegas dia.Terkait kasus ini, Heri lalu mengimbau kepada seluruh pihak yang merasa telah dirugikan untuk segera melapor ke pihak berwenang, dalam hal ini polisi militer.Baca juga: Syarat Tinggi-Usia Calon Prajurit TNI AD Dilonggarkan, Wapang: Kami Butuh Banyak Pasukan“Hal ini penting untuk mempercepat proses penegakan hukum, mengingat dugaan kejadian ini telah berlangsung sejak Mei 2025,” kata dia.Menurut dia, langkah proaktif dari para korban untuk melaporkan kasus ini akan sangat membantu aparat dalam mengungkap jaringan dan modus operandi praktik penipuan dan calo ini.Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan bujuk rayu oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang menjanjikan kelulusan dalam proses rekrutmen calon anggota TNI."Praktik seperti ini adalah penipuan murni dan bukan kebijakan resmi TNI,” tegas dia. 


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Sekali lagi melihatnya sekali mungkin tidak menjadi tantangan, tetapi melihatnya berkali-kali bisa mendistorsi pandangan anak tentang body image mereka sendiri, ujar Graham.Ada beberapa konten yang dibatasi oleh YouTube untuk dikonsumsi pra-remaja dan remaja secara berulang, salah satunya konten dengan topik yang membahas tentang perbandingan ciri fisik seseorang.Kemudian topik yang mengidealkan beberapa tipe fisik, mengidealkan tingkat kebugaran atau berat badan tertentu, serta menampilkan agresi sosial seperti perkelahian tanpa kontak dan intimidasi.Selanjutnya adalah topik yang menggambarkan remaja sebagai sosok yang kejam dan jahat, atau mendorong remaja untuk mengejek orang lain,menggambarkan kenakalan atau perilaku negatif, dan nasihat keuangan yang tidak realistis atau buruk.Inilah mengapa YouTube bekerja sama dengan pemerintah dan para ahli, dalam hal ini Kemenkomdigi RI, psikolog, dan psikiater.Mereka adalah para panutan yang telah benar-benar mendorong kemajuan tentang bagaimana kita bisa meningkatkan informasi seputar kesehatan mental, ucap Graham.Kompas.com / Nabilla Ramadhian Tampilan fitur Teen Mental Health Shelf di YouTube.Berkaitan dengan kolaborasi tersebut, Graham mengumumkan bahwa pihaknya meluncurkan fitur Teen Mental Health Shelf, yang dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan mental remaja.Baca juga: Ribuan Iklan Rokok Serbu Youtube, Ruang Anak TerancamIni untuk para remaja di Indonesia yang akan menggunakan platform kami untuk mencari topik-topik sensitif seperti depresi, kecemasan, atau perundungan, jelas Graham.

| 2026-02-04 23:29