Cerita Para Penjaga Makam di Kediri, Tak Bisa Tidur di Hari Pertama Bertugas

2026-01-11 23:37:45
Cerita Para Penjaga Makam di Kediri, Tak Bisa Tidur di Hari Pertama Bertugas
KEDIRI, - Muryani kaget tiba-tiba mertuanya mengamanatinya meneruskan tugasnya sebagai penjaga makam. Tak berselang lama, mertuanya yang sudah sepuh itu meninggal dunia.Tugas sebagai penjaga Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ronggo Jali di Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, Jawa Timur, pun beralih pada Muryani, usai pewarisan dari generasi ke generasi itu.Bagi Muryani, amanat itu tentu sesuatu yang sangat tak diduganya. Sebab, laki-laki berusia 56 tahun itu mengaku saat itu tak punya bekal apalagi pengalaman sebagai penjaga makam. Apalagi dirinya di keluarga itu hanyalah seorang mantu.Baca juga: Cerita Penjaga Makam di Situbondo, Andalkan Sumbangan untuk Biaya OperasionalPadahal, lazimnya sebagai seorang penjaga makam, terutama di desa, selain mempunyai mental yang kuat juga mempunyai modal jiwa spiritual maupun kebatinan. Sehingga, tak sembarangan orang mampu melakukannya karena dianggap sakral.“Mertua saya hanya berpesan untuk melanjutkan tugasnya sambil ngasih doa. Saya juga kaget dan enggak paham kenapa saya yang ditunjuk,” ujar Muryani mengingat peristiwa satu dekade lalu kepada Kompas.com, Minggu .Baca juga: Kisah Aba Yadi, Penjaga Makam Raja Ronggosukowati Pamekasan yang Diupah Rp 400.000 Per BulanSepeninggal mertua perempuannya itu, lelaki asal Kabupaten Blitar itu harus mulai menjalankan rutinitas baru yang tak pernah disangkanya sama sekali.Hari-hari pada awal tugasnya, perasaannya bercampur aduk. Diliputi kecemasan, gugup hingga kekhawatiran akan medan tugas yang harus dijalaninya itu.“Sebab penjaga makam itu enggak ada pendidikan formalnya. Saat itu enggak tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya dibekali doa (mantra) oleh mertua,” lanjut Muryani.Benar saja. Di hari pertama bertugas bertepatan dengan adanya warga yang meninggal dunia. Sebisanya, segala keperluan dia siapkan hingga pemakaman itu lancar hingga akhir.“Tapi malamnya saya enggak bisa tidur. Terasa enggak tenang. Kayak ada yang ngetok-ngetok pintu rumah terus,” ujar Muryani.Hingga kemudian, dirinya terus berusaha dan belajar membiasakan diri hingga akhirnya terbiasa dan dijalaninya hingga kini.Tugas penjaga makam secara umum adalah perihal pemeliharaan pemakaman dan keseluruhan areanya. Meliputi kebersihan, keamanan, juga ketertiban makam.Selain itu, selalu hadir setiap kali ada warga yang meninggal. Soal ini, tak bisa diprediksi kapan datang waktunya. Sehingga, dirinya harus senantiasa stand by selama 24 jam.“Ini rumputnya sudah mulai tumbuh lagi, padahal kemarin baru saja saya bersihkan,” ujar Muryani menunjuk tunas vegetatif rumput di kawasan pemakaman.


(prf/ega)