5 Tips Susun Resolusi 2026 Menurut Psikolog, termasuk Hindari 2 Kata Ini

2026-01-12 03:58:14
5 Tips Susun Resolusi 2026 Menurut Psikolog, termasuk Hindari 2 Kata Ini
- Pergantian tahun kerap identik dengan semangat memulai kembali.Banyak orang menaruh harapan besar pada Januari 2026 sebagai titik awal perubahan, baik soal kesehatan, karier, keuangan, maupun kebiasaan hidup. Target pun disusun rapi dan janji pada diri sendiri diucapkan dengan penuh keyakinan.Namun, tidak sedikit resolusi berakhir di tengah jalan. Beberapa minggu setelah tahun baru berjalan, motivasi mulai surut dan rencana perlahan ditinggalkan.Psikolog melihat pola ini berulang hampir setiap tahun. Masalahnya sering kali bukan pada kurangnya niat, melainkan cara menetapkan tujuan yang terlalu kaku dan menekan diri. Bahasa resolusi yang terlalu keras justru membuat perubahan sulit bertahan.Lantas, bagaimana cara menyusun resolusi tahun baru 2026 agar lebih realistis dan berkelanjutan?Baca juga: Ada 25 Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama di Kalender 2026, Cek Rinciannya di SiniCanva.com Ilustrasi tahun baru 2026. Berikut ini 50 ucapan Tahun Baru yang bisa digunakan untuk kartu, baik untuk keluarga, sahabat, rekan kerja, maupun relasi profesional.Menyusun resolusi tidak sekadar menuliskan daftar keinginan. Diperlukan pendekatan yang tepat agar tujuan benar-benar bisa dijalani dalam jangka panjang.Baca juga: 10 Provinsi dengan UMP 2026 Tertinggi dan Terendah, Mana Saja?Dilansir dari BBC, Sabtu , kesalahan lain yang sering luput disadari adalah penggunaan bahasa yang terlalu absolut.Psikolog Kimberley Wilson menegaskan, kata-kata seperti “selalu” dan “tidak pernah” sebaiknya dihindari karena menciptakan pola pikir serba atau tidak sama sekali.Janji seperti “Saya akan selalu lari setiap Rabu pagi” atau “Saya tidak akan pernah minum alkohol lagi” justru membuka peluang kegagalan.“Contoh klasiknya adalah seputar diet atau olahraga, dan orang-orang berpikir bahwa jika mereka melakukan kesalahan suatu hari nanti, maka semuanya menjadi sia-sia,” ujar Wilson dalam podcast What’s Up Doc milik BBC.Menurutnya, pola pikir sempit ini membuat seseorang menilai satu kesalahan sebagai kegagalan total, padahal perubahan seharusnya dilihat dalam konteks jangka panjang.Dr. Kaye pun menyarankan penggunaan frasa yang lebih lentur seperti “Saya ingin bereksperimen dengan”, “Saya ingin menciptakan lebih banyak ruang untuk”, atau “Saya sedang mempelajari apa yang cocok untuk saya ketika…”.Baca juga: 10 Provinsi dengan UMP 2026 Tertinggi dan Terendah, Mana Saja?Resolusi seperti “menurunkan berat badan”, “mengganti karier”, atau “pindah rumah” kerap terdengar ambisius, tetapi justru berisiko gagal.Dr. Claire Kaye, mantan dokter umum sekaligus pelatih kepercayaan diri, mengingatkan bahwa tujuan semacam itu bukanlah rencana konkret, melainkan pernyataan yang menekan secara psikologis.Menurutnya, banyak resolusi gagal karena terlalu luas, tidak jelas, dan jauh dari kondisi nyata seseorang.Ia menyarankan agar sebelum menulis target, seseorang terlebih dahulu memetakan apa yang selama ini berjalan baik, hal-hal yang menguras energi, serta kebiasaan yang dijalani secara otomatis tanpa disadari.“Ketika Anda memahami apa yang lebih Anda inginkan, bukan hanya apa yang ingin Anda hindari, perubahan akan menjadi jauh lebih berkelanjutan,” kata Kaye.Ia menganjurkan agar resolusi ditulis dengan fokus pada arah dan pengalaman, bukan pada hasil akhir yang kaku.Misalnya, target “menurunkan berat badan” dapat diubah menjadi: “Saya ingin merasa lebih berenergi dan nyaman dengan tubuh saya, dan memahami apa yang membantu saya merasa seperti itu".Begitu pula dengan niat “mengubah karier”, yang bisa dirumuskan ulang menjadi “Saya ingin mengeksplorasi pekerjaan apa yang memberi saya energi dan makna, dan mengidentifikasi satu langkah kecil menuju hal yang lebih banyak seperti itu”.Baca juga: 10 Bumbu Olesan Jagung Bakar untuk Malam Tahun Baru 2026Banyak resolusi runtuh bukan karena tujuan terlalu sulit, melainkan karena tidak ada rencana saat kondisi tidak ideal.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Selain kecepatan internet mobile, DataReportal x Ookla ini juga mengungkap kecepatan internet kabel (fixed broadband) di Indonesia.Adapun median download speed internet kabel di Indonesia kini tercatat di 39,88 Mbps, naik 24,4 persen dari tahun lalu.Sementara median upload kini tercatat di angka 26,61 Mbps (naik 37,4 persen) dan latensi di angka 7 ms (turun 12,5 persen).Perlu dicatat, laporan ini menggunakan pengukuran median. Ini merujuk pada kecepatan rata-rata tengah ketika pengguna mengunduh data dari internet ke perangkat.Berbeda dengan rata-rata biasa (mean) yang bisa dipengaruhi oleh hasil pengukuran ekstrem, median menunjukkan angka tengah dari seluruh tes kecepatan.Artinya, setengah pengguna di Indonesia mendapatkan kecepatan unduh di bawah 45,01 Mbps, dan setengahnya lagi di atas angka tersebut, ketika menggunakan data seluler. Dengan cara ini, data dianggap lebih merepresentasikan pengalaman nyata pengguna sehari-hari.speedtest Dalam kategori internet seluler, Bekasi menempati posisi ke -118 (dari 148 kota) secara global, sekaligus menjadi yang tertinggi di Indonesia dengan kecepatan unduh (download speed) median 54,59 MbpsDalam laporan Ookla yang dipublikasi secara terpisah, Bekasi dan Jakarta Selatan (Jaksel) tercatat sebagai kota dengan internet tercepat di Indonesia, kecepatannya tembus di atas 50 Mbps untuk data seluler.Baca juga: Kecepatan Internet Indonesia Meningkat 10 Kali Lipat sejak 2014Laporan Speedtest merinci, dalam kategori internet seluler, Bekasi punya nilai tengah download speed 54,59 Mbps. Sementara Jaksel dengan 52,29 Mbps.Selain itu, Speedtest juga mengukur angka tengah kecepatan unggah (upload speed) dan latensi.Menurut laporan Speedtest, Bekasi punya kecepatan unggah 21,05 Mbps dan latensi 18 ms. Sementara, Jaksel punya kecepatan unggah 17,84 Mbps dan latensi 20 ms.Capaian ini menjadikan keduanya sebagai representasi kota dengan internet tercepat di Indonesia, meski secara global posisinya masih di papan bawah.

| 2026-01-12 03:13