Okupansi Hotel di Batu Tembus 60 Persen, Diprediksi Naik hingga Akhir Tahun

2026-01-16 08:10:19
Okupansi Hotel di Batu Tembus 60 Persen, Diprediksi Naik hingga Akhir Tahun
KOTA BATU — Tingkat okupansi hotel di Kota Batu, Jawa Timur, menunjukkan tren peningkatan positif saat perayaan Natal 2025.Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu mencatat, pada Kamis , tingkat keterisian kamar mencapai 60 persen, naik signifikan dari sehari sebelumnya yang berada di angka 41 persen.Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, menyampaikan bahwa lonjakan 19 persen dalam satu hari dipengaruhi oleh kreativitas pengelola hotel dalam menghadirkan berbagai atraksi dan program khusus untuk menarik tamu.Menurut Sujud, setiap hotel di Kota Batu berupaya menghadirkan konsep acara yang menarik, mulai dari gala dinner, pertunjukan musik, hingga berbagai hiburan tematik Natal.Selain itu, kampanye promosi yang gencar turut memberi kontribusi besar dalam menarik wisatawan.Baca juga: Kendaraan Menuju Kota Batu Meningkat 150 Persen pada Libur Natal“Pengelola hotel memiliki ide kreatif untuk menggaet tamu. Itu yang akhirnya membuat okupansi hari ini meningkat menjadi 60 persen,” ujarnya dilansir dari Antara .Natal 2025 yang berdekatan dengan akhir pekan membuat Kota Batu kembali menjadi destinasi favorit untuk berlibur.Kombinasi libur nasional dan long weekend mendorong wisatawan menghabiskan waktu bersama keluarga di kota wisata ini.Baca juga: Walhi: Kota Batu Kehilangan 352 Hektar Hutan Primer dalam 2 DekadePHRI Kota Batu optimistis peningkatan ini akan berlanjut hingga penghujung tahun. Sujud menargetkan okupansi bisa mencapai 90 persen pada malam pergantian tahun.“Kami berharap di tanggal 27–28 Desember okupansi sudah tinggi. Minimal malam tahun baru bisa mencapai 90 persen,” katanya.Berdasarkan pantauan di lapangan, arus kendaraan dari arah Malang dan Surabaya mulai meningkat menuju Kota Batu.Meski secara umum masih normal, beberapa titik menunjukkan kepadatan, seperti Simpang 3 Pendem yang menjadi jalur pertemuan arus keluar-masuk kendaraan dari berbagai arah./Putu Ayu Prama Sugiyo Pantauan arus lalu lintas di Kota Batu, Jawa Timur, saat libur Natal 2025, Kamis Jalur menuju kawasan wisata seperti Jalan Ir. Soekarno yang menjadi lokasi Jatim Park 3 masih tampak lengang.Namun, setelah melewati kawasan tersebut, terjadi antrean kendaraan akibat ramainya pengunjung yang keluar-masuk rumah makan di sekitar lokasi.Baca juga: Jadi Hiburan Rakyat, Warga Kota Batu Antusias Nonton Balap Sepeda DownhillDengan meningkatnya minat wisatawan dan berbagai agenda liburan yang telah dipersiapkan pengelola hotel, Kota Batu diperkirakan semakin ramai hingga libur Tahun Baru 2026.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-01-16 06:28