- Berstatus sebagai negara agraris, Indonesia masih sangat bergantung pada impor daging sapi maupun kerbau. Angka impor, bahkan terus menunjukan tren kenaikan dari tahun ke tahun.Mengacu pada data sementara yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri Impor edisi Desember 2022, Indonesia tercatat mendatangkan lebih dari 205 ribu ton daging lembu (bovine meat) sepanjang 2022.Jumlah tersebut menunjukkan penurunan sekitar 70 ribu ton jika dibandingkan dengan total impor pada 2021.Selama periode 2017–2022, India dan Australia menjadi dua negara pemasok utama daging lembu ke Indonesia. Namun, BPS mencatat adanya perubahan tren pada 2022 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.Jika pada 2017–2021 pasokan terbesar berasal dari Australia, maka pada 2022 posisi dominan justru diambil alih oleh India yang berasal dari daging kerbau.Angka impor daging tersebut belum menghitung impor atas sapi bakalan yang kemudian digemukkan di dalam negeri.Baca juga: Pemerintah Kurangi 50 Persen Impor Daging Kerbau, Apa Alasannya ?Pengusaha sapi lokal yang juga pendiri peternakan terintegrasi Ranca Bukit Waru Wangi Serang, Siswono Yudo Husodo, mengungkapkan besarnya volume impor daging sapi Indonesia bak ironi, mengingat potensi pakan hijauan di negara ini sangat besar.Menurut Siswono, masalah pelik budidaya sapi skala masif di Indonesia terletak pada masalah pembibitan (breeding), bukan soal pakan. Di sektor breeding, Indonesia sangat tertinggal jauh dibanding negara-negara pengekspor daging.“Minat peternak melakukan breeding rendah. Populasi turun terus. Dampaknya impor makin besar,” ujar Siswono Yudo Husodo, dikutip Selasa .Ia menegaskan, tanpa insentif nyata, mulai dari inseminasi buatan atau IB gratis, bonus kelahiran, hingga akses penggembalaan, Indonesia akan sulit keluar dari lingkaran impor daging."Kalau kita tidak lakukan langkah konkret, populasi tidak akan tumbuh. Itu pasti," kata Siswono.Ia sendiri sudah menerapkan pola peternakan modern di Serang, Banten, yang sebenarnya mudah diduplikasi di daerah-daerah lainnya di Indonesia.Baca juga: Pemerintah Buka Peluang Impor Daging Kerbau dari PakistanDi Bukit Waru Wangi, sistem ranch, yang jarang ditemui di Indonesia, mulai diterapkan. Di mana kerbau dan sapi dilepas di padang hijau, dengan latar Selat Sunda, Krakatau, dan Pasir Angin.Asalkan ada kemauan pemerintah, tanah-tanah luas terlantar bisa disulap menjadi ranch sapi. Pola peternakan seperti ini juga menghemat pengeluaran pakan. Ranch juga cocok diterapkan untuk peternakan kerbau.“Mayoritas peternak kita masih cut and carry. Sulit bersaing. Yang menang adalah yang bisa produksi murah dan berkualitas. Sistem paling efisien itu ranch," beber Siswono.
(prf/ega)
Kenapa RI Begitu Sulit Mewujudkan Swasembada Daging Sapi?
2026-01-12 06:19:02
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:08
| 2026-01-12 06:10
| 2026-01-12 05:19
| 2026-01-12 05:12
| 2026-01-12 05:05










































