Aktivis Lingkungan di NTT Diduga Meninggal Tidak Wajar, LPSK Persilakan Warga Ajukan Permohonan Perlindungan untuk Ungkap Kasus

2026-01-14 06:47:54
Aktivis Lingkungan di NTT Diduga Meninggal Tidak Wajar, LPSK Persilakan Warga Ajukan Permohonan Perlindungan untuk Ungkap Kasus
RUTENG, - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) RI, Sri Nurherweti, mengatakan warga dapat mengajukan permohonan perlindungan kepada LPSK terkait kematian aktivis lingkungan di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).Kematian aktivis tersebut terjadi pada awal Oktober 2025.“Bisa. Karena itu berkaitan dengan ancaman. Jadi kita membuka itu di undang-undang tindak pidana lainnya karena mengancam nyawa atau jiwa."Baca juga: LPSK Dampingi Saksi dalam Kasus Kematian Prada Lucky di NTT"Maka kalau itu terjadi maka sebenarnya boleh dilakukan permohonan ke LPSK,” ungkap Sri kepada wartawan di Ruteng pada Rabu .Sri menambahkan, masyarakat dapat mengajukan permohonan perlindungan melalui berbagai media, termasuk WhatsApp.LPSK saat ini juga telah memiliki kantor perwakilan di Kupang dan 68 Sahabat Saksi dan Korban (SSK) di berbagai daerah di NTT untuk memperkuat layanan di lapangan.Sebelumnya, Rudolfus Oktavianus Ruma alias Vian Ruma (30), seorang guru Matematika di SMPN 1 Nangaroro dan aktivis lingkungan, ditemukan tewas terikat di sebuah pondok pada Jumat .Baca juga: LPSK: Ada 315 Permohonan Perlindungan di NTT, Termasuk dalam Kasus Eks Kapolres NgadaDalam video dan foto yang beredar, almarhum ditemukan dalam kondisi tergantung di sebuah pondok bambu dengan kakinya menyentuh tenda pondok dan lututnya dalam posisi tekuk.Di sampingnya, terdapat tas, ponsel, dan sepatu, sementara motornya terlihat diparkir di luar pondok.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 05:12