Jakarta Bikin Dion Nyaris Berhenti Bermimpi, sampai Ia Temukan Kampus yang Bikin Semua Orang Punya Kesempatan Lagi

2026-01-12 06:15:42
Jakarta Bikin Dion Nyaris Berhenti Bermimpi, sampai Ia Temukan Kampus yang Bikin Semua Orang Punya Kesempatan Lagi
Jakarta Jakarta selalu punya cara untuk membuat orang merasa kecil sekaligus berani. Di antara gedung-gedung tinggi dan suara klakson yang tak pernah berhenti, ada satu nama yang sedang menapaki mimpinya pelan-pelan, itu adalah Gidion Boas Sihite atau yang akrab dipanggil Dion.Ia datang jauh dari Medan, membawa ransel, doa orang tua, dan satu keinginan sederhana: bisa kuliah. Sejak SMA, Dion sudah punya bayangan tentang masa depan. Ia ingin belajar manajemen, kerja di perusahaan besar, lalu membangun bisnis sendiri suatu hari nanti. Awalnya, Universitas Sumatera Utara (USU) jadi tujuannya. Semua sudah disiapkan: jurusan, berkas, rencana. Tapi hidup, seperti biasa, jarang berjalan sesuai rencana.“Waktu itu, kondisi keluarga lagi nggak memungkinkan,” kenang Dion suatu sore. “Aku sempat bingung, mau tetap maksa kuliah atau bantu orang tua dulu.”AdvertisementAkhirnya, Dion memilih hal kedua yaitu merantau ke Jakarta. Baginya, ini bukan tentang menyerah, tapi mencari jalan lain untuk tetap berjalan.Waktu terasa sempit, tenaga sering habis sebelum malam. Tapi setiap kali melihat orang-orang seumuran mengenakan jas almamater atau memegang buku kuliah di halte bus, Dion selalu berhenti sejenak. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Dan terkadang jika tiba waktu di tengah makan malamnya yang sederhana, pikirannya melayang: “Masih mungkin nggak, ya, buat kuliah di usia segini?” dalam pikirannya muncul bahwa ternyata kuliah itu privilege. Nggak semua orang punya kesempatan untuk melanjutkan, meskipun punya keinginan yang sama. Ada yang terhalang biaya, waktu, atau tanggung jawab hidup yang nggak bisa ditunda. Dan Dion, seperti banyak orang lainnya, termasuk di antara mereka yang harus menunda mimpinya sementara waktu.Lalu suatu malam, ia membaca artikel di internet, tentang banyaknya anak muda di Indonesia yang disebut “NEET” mereka yang nggak kuliah, nggak kerja, dan nggak ikut pelatihan apa pun. Jumlahnya jutaan, sebagian besar lulusan SMA dan SMK. Dia merasa apa mungkin ia adalah salah satunya?Malam itu Dion tidak bisa tidur. Kepalanya penuh pikiran tentang hidup yang seolah berhenti di tempat. Di sela rasa lelah, muncul pertanyaan yang belum pernah ia jawab dengan jujur: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi akan mulai?” Sejak malam itu, ia mulai rajin mencari cara. Setiap waktu luang di sela kerja, ia pakai buat scrolling forum mahasiswa, nonton video pengalaman kuliah daring, sampai baca blog orang-orang yang bisa kuliah sambil kerja. Ternyata dunia pendidikan di era digital sudah jauh berubah dari yang ia bayangkan. Sekarang, kuliah nggak selalu harus duduk di ruang kelas dengan papan tulis dan dosen di depan. Ada sistem pembelajaran jarak jauh, ada kampus yang membuka kelas online, dan semuanya terasa seperti membuka harapan baru. Dion mulai sadar, mungkin kesempatan itu masih ada  hanya bentuknya saja yang berubah.Hari Dion mulai berubah, ia mulai membiasakan diri membaca, menonton video pembelajaran, dan mencatat hal-hal kecil yang ingin ia pelajari. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menunggu hasilnya semuanya tergantung pada dirinya sendiri. Awalnya sulit. Tapi perlahan, Dion belajar satu hal penting: bahwa belajar bukan soal tempat, tapi soal kemauan.


(prf/ega)