JAKARTA, - Industri furnitur dan kerajinan masih menghadapi tekanan sejak beberapa tahun terakhir.Pelaku usaha pun menyoroti tingginya biaya produksi, regulasi yang berlapis, serta minimnya insentif fiskal terhadap industri padat karya.Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menilai, tekanan yang dialami industri furnitur dan kerajinan kerap disalahartikan semata-mata sebagai persoalan daya saing pelaku usaha.Padahal, persoalan yang dihadapi dinilai jauh lebih mendasar dan berkaitan dengan arah serta konsistensi kebijakan negara.Baca juga: Pengusaha Mebel Jajaki Pembelian Mesin Asal China“Fenomena ini sering dipersepsikan sebagai persoalan daya saing pelaku usaha. Padahal jika dicermati lebih dalam, persoalannya lebih mendasar, yakni arah dan konsistensi kebijakan negara,” ujar Abdul Sobur lewat keterangan pers, Selasa .Ia membandingkan kebijakan Indonesia dengan negara lain di kawasan.Vietnam, misalnya, menempatkan industri furnitur sebagai bagian dari strategi nasional penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekspor manufaktur.Negara tersebut menyediakan pembiayaan yang kompetitif, kepastian regulasi, serta dukungan logistik dan perdagangan luar negeri yang terintegrasi.Hasilnya, ekspor furnitur Vietnam meningkat signifikan dan menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar.Sementara itu, Malaysia memilih pendekatan yang lebih defensif.Meski dengan skala industri yang lebih kecil, kebijakan fiskal dan industrinya diarahkan untuk tetap bertahan dan tidak kehilangan kapasitas produksi.Indonesia, menurut Sobur, berada pada posisi yang berbeda.Industri furnitur di Tanah Air menghadapi biaya produksi yang relatif tinggi, regulasi yang berlapis, serta minimnya insentif fiskal yang mempertimbangkan karakter industri padat karya.Dalam kondisi tersebut, pergeseran kapasitas produksi ke negara lain menjadi sulit dihindari.Dampak dari tekanan kebijakan tersebut mulai terlihat secara nyata.
(prf/ega)
Industri Furnitur Masih Tertekan, Pelaku Usaha Keluhkan Biaya Produksi Tinggi dan Regulasi Berlapis
2026-01-11 23:02:22
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 21:25
| 2026-01-11 21:21
| 2026-01-11 21:14
| 2026-01-11 21:10










































