Meski Gencatan Senjata, Israel Tetap Ogah Keluar dari Gaza

2026-01-11 03:48:33
Meski Gencatan Senjata, Israel Tetap Ogah Keluar dari Gaza
TEL AVIV, - Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menolak untuk menarik diri dari Jalur Gaza dan bahkan membangun pos-pos baru di wilayah utara Palestina tersebut.Pernyataan itu disampaikan Katz pada Selasa dalam sebuah pidato yang videonya dipublikasikan oleh sejumlah media Israel.Pernyataan itu juga dikeluarkan meski Israel dan Hamas menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS).Baca juga: Project Sunrise: Rekonstruksi Gaza untuk Siapa?Gencatan senjata tersebut saat ini masih bertahan, sebagaimana dilansir AFP.Meski demikian, para mediator internasional terus mendorong implementasi fase lanjutan kesepakatan yang mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza.Dalam pidatonya di permukiman Israel Beit El, Tepi Barat yang diduduki, Katz berjanji bahwa Israel tetap berada di Gaza."Kami berada jauh di dalam Gaza, dan kami tidak akan pernah meninggalkan Gaza. Hal itu tidak akan terjadi," kata Katz.Dia menegaskan bahwa keberadaan pasukan Israel di Gaza dimaksudkan untuk mencegah terulangnya serangan seperti yang terjadi sebelumnya.Baca juga: Di Depan Investor, AS Mau Ubah Gaza Jadi Resor Futuristik"Kami berada di sana untuk melindungi, untuk mencegah apa yang telah terjadi agar tidak terulang kembali," ujar Katz.Selain menolak penarikan pasukan, Katz juga menyatakan rencana pemerintah Israel untuk mendirikan kembali pos-pos di Gaza utara, menggantikan permukiman yang dievakuasi saat penarikan sepihak Israel dari wilayah tersebut pada 2005."Ketika waktunya tiba, kami akan mendirikan pos-pos Nahal di Gaza utara sebagai pengganti komunitas yang telah dicabut," kata Katz.Nahal sendiri merupakan bentuk permukiman militer-pertanian yang didirikan oleh tentara Israel."Kami akan melakukannya dengan cara yang tepat dan pada waktu yang tepat," lanjutnya.Baca juga: Saking Sulitnya Gencatan Senjata Gaza, AS-Israel-Qatar KTT Tertutup di New YorkPernyataan Katz tersebut langsung menuai kritik dari sejumlah tokoh politik Israel, termasuk mantan Menteri dan mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot.Eisenkot menilai langkah tersebut bertentangan dengan konsensus nasional Israel, terutama di tengah situasi keamanan yang dinilainya sangat krusial.


(prf/ega)