ANGKA-angka ekonomi Indonesia pada 2025, memberi rasa aman: pertumbuhan sekitar lima persen, inflasi terkendali, dan sistem keuangan relatif stabil. Dalam banyak ukuran makro, kondisi ini patut disyukuri.Namun, justru di tengah ketenangan inilah pertanyaan mendasar perlu diajukan dengan jujur: apakah ekonomi Indonesia sedang benar-benar naik kelas, atau hanya berjalan di tempat dengan kemasan stabilitas?Pengalaman banyak negara menunjukkan, stagnasi sering lahir bukan dari krisis, melainkan dari keberhasilan yang membuat kebijakan kehilangan keberanian.Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten di kisaran 5 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta investasi yang tetap tumbuh (BPS, 2025).Dalam teori Keynesian aggregate demand, stabilitas konsumsi domestik adalah bantalan utama ketika sektor eksternal melemah (Mankiw, 2021). Indonesia membuktikan tesis ini: pasar domestik berperan sebagai jangkar stabilitas.Baca juga: Alarm Akhir 2025: Satu dari Tujuh Anak Muda PengangguranInflasi juga terkendali dalam rentang sasaran Bank Indonesia, menunjukkan koordinasi fiskal–moneter berjalan relatif efektif.Konsep price stability as a prerequisite for growth menegaskan bahwa inflasi rendah bukan tujuan akhir, tetapi prasyarat bagi keputusan investasi jangka panjang (Blanchard, 2022; Bank Indonesia, 2025). Di sinilah kredibilitas kebijakan menjadi aset yang sering luput disadari.Sektor perbankan Indonesia memasuki 2025 dengan modal kuat, likuiditas longgar, dan rasio kredit bermasalah yang terkendali (OJK, 2025).Dalam perspektif financial stability theory, sistem keuangan yang sehat berfungsi sebagai peredam guncangan, bukan justru sumber krisis (Gorton & Metrick, 2012). Pengalaman krisis global 2008 menjadi pelajaran penting yang tampaknya tidak dilupakan regulator.Namun, stabilitas ini juga menyimpan paradoks. Kredit tumbuh, tetapi belum sepenuhnya agresif mendorong sektor produktif bernilai tambah tinggi. Di sinilah tantangan 2026 mulai terlihat: stabilitas tanpa keberanian berisiko dapat berubah menjadi stagnasi terselubung.Realisasi investasi sepanjang 2025 tetap tinggi, terutama di sektor penghiliran dan infrastruktur (Kementerian Investasi, 2025).Secara teori endogenous growth, investasi seharusnya mendorong produktivitas jangka panjang melalui teknologi dan human capital (Romer, 1990). Namun, pertanyaan krusialnya bukan sekadar jumlah investasi, melainkan kualitas dan kedalaman dampaknya.Jika penghiliran berhenti pada pengolahan awal dan belum menciptakan ekosistem industri lanjutan, maka multiplier effect akan terbatas. Indonesia berisiko terjebak pada apa yang disebut middle value-added trap—tidak lagi mentah, tetapi belum sepenuhnya maju.Indonesia menguat sebagai pemain utama ekonomi syariah global, baik dari sisi aset keuangan maupun industri halal (KNEKS, 2025).Dalam teori institutional economics, keunggulan komparatif berbasis nilai dan institusi sosial dapat menjadi sumber pertumbuhan unik (North, 1990). Namun, potensi ini belum sepenuhnya dikonversi menjadi daya saing ekspor dan inovasi produk.
(prf/ega)
Ekonomi 2026 Naik Kelas atau Jalan di Tempat?
2026-01-12 06:29:53
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:38
| 2026-01-12 06:37
| 2026-01-12 05:52
| 2026-01-12 05:30
| 2026-01-12 04:53










































