LEDAKAN di SMAN 72 Jakarta Utara pada awal November lalu, meninggalkan jejak luka yang jauh lebih dalam daripada pecahan kaca dan dinding masjid sekolah yang rusak.Peristiwa itu mengguncang akal sehat kita: pelakunya bukan anggota jaringan teror berpengalaman. Bukan pula simpatisan kelompok radikal yang sudah lama diburu aparat.Ia hanya seorang remaja, 17 tahun, siswa sekolah itu—seorang anak yang seharusnya bersiap untuk mengikuti ujian akhir, bukan merakit bahan peledak di kamar tidurnya.Dari penyelidikan awal, polisi menyatakan bahwa sang remaja merakit bom menggunakan bahan-bahan sederhana yang ia pelajari dari internet.Ini menghentak nurani: media digital menjadi “guru” bagi seorang anak untuk mempelajari cara menghancurkan orang yang tak disukai.Polisi juga menemukan coretan di airsoft gun mainan si pelaku nama-nama teroris internasional. Muncul dugaan kuat, sang remaja memang terpapar kekerasan dan radikalisme dari ruang digital global.Sekilas peristiwa ini sepertinya insiden tunggal, ungkapan kemarahan anak muda terhadap lingkungan pergaulannya. Namun, sesungguhnya ia berada dalam lanskap permasalahan yang lebih kompleks dan mengerikan.Baca juga: Negara dan Generasi Teror 72Kita menyaksikan munculnya generasi baru ekstremisme yang lahir dari ruang digital, yang dengan mudah menyusup ke kamar tidur remaja.Remaja telah menjadi target empuk rekrutmen dan radikalisasi. Kita mulai tersadar, terorisme hari ini tidak lagi dimulai dari ruang-ruang pengajian tertutup dan ekslusif atau kamp pelatihan rahasia, tetapi dari layar ponsel yang menemani anak-anak setiap saat.Apa sebenarnya yang terjadi dengan remaja kita? Mengapa mereka dengan mudah terpapar virus kekerasan dan radikalisme?Kasus di SMAN 72 menegaskan bahwa radikalisasi remaja tidak disebabkan satu penyebab tunggal. Setidaknya ada dua penyebab.Pertama, kasus itu merupakan resultante dari kerentanan psikologis, ruang pergaulan sosial yang rapuh dan anarkis, serta kanal digital yang menyediakan suplai ideologi kekerasan tanpa batas.Para ahli sering mengatakan remaja adalah kelompok yang paling rentan terhadap narasi ekstrem karena fase perkembangan mereka memang penuh gejolak.Seturut dengan pandangan psikolog terorisme John Horgan, banyak remaja yang terpapar ekstremisme awalnya “tidak digerakkan oleh ideologi, melainkan oleh pencarian makna dan rasa memiliki, terutama ketika mereka merasa terisolasi atau tidak dihargai” (The Psychology of Terrorism, Routledge, 2014).Temuan ini dipertegas dengan teori Arie Kruglanski tentang “Quest for Significance”, yang menekankan bahwa radikalisasi berakar pada upaya seseorang dalam mencari jati diri; jika dia merasa terhina, tak dianggap karena tidak penting, maka tindakan kekerasan akan menjadi jalan keluarnya (Kruglanski, The Three Pillars of Radicalization: Needs, Narratives, and Networks, Oxford University Press, 2019).
(prf/ega)
Ekstremisme Remaja: Dari Digital Jadi Brutal
2026-01-12 06:18:42
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:39
| 2026-01-12 05:41
| 2026-01-12 05:23
| 2026-01-12 04:24










































