Situs Pengorbanan Berusia 2.400 Tahun di Rusia Jadi Temuan Arkeologi Terkaya, Ini Alasannya

2026-02-02 04:30:46
Situs Pengorbanan Berusia 2.400 Tahun di Rusia Jadi Temuan Arkeologi Terkaya, Ini Alasannya
Institut Arkeologi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia Kompleks pengorbanan di Rusia. - Sebuah “kompleks pengorbanan” yang unik ditemukan di antara dua gundukan pemakaman di Rusia.Temuan ini membuka wawasan baru mengenai ritual pemakaman bangsa nomaden di wilayah Pegunungan Ural Selatan sekitar 2.400 tahun lalu.Dilansir dari Live Science, Minggu , para peneliti dari Institut Arkeologi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia melakukan penggalian di area antara gundukan-gundukan pemakaman pada situs arkeologi Vysokaya Mogila.Situs tersebut merupakan kompleks pemakaman bangsawan yang tersusun atas deretan gundukan besar yang membentang hingga 6 kilometer.Pemakaman itu digunakan pada abad ke-4 hingga ke-3 SM dan selama bertahun-tahun para peneliti telah menemukan berbagai artefak, baik di dalam maupun di luar gundukan pemakaman.Lantas, apa saja yang ditemukan para peneliti di kompleks pemakaman tersebut?Baca juga: Penampakan Jaring Laba-laba 100 Meter Persegi yang Ditemukan di Gua Perbatasan Yunani–AlbaniaDalam penggalian terbaru ini, para peneliti menemukan sejumlah kumpulan artefak yang disimpan di antara gundukan-gundukan tersebut.Menurut arkeolog Sergey Sirotin, salah satu pemimpin penggalian, secara keseluruhan terdapat lebih dari 100 objek, sebagian besar merupakan perlengkapan berkuda.Selain itu, ditemukan pula lebih dari 500 manik-manik perunggu.Di salah satu kumpulan artefak yang berada di sebelah tenggara gundukan, para peneliti menemukan pelat emas berbentuk kepala dan kaki depan harimau.Di salah satu kumpulan artefak yang berada di sisi tenggara gundukan, peneliti menemukan pelat emas berbentuk kepala dan kaki depan harimau.Sementara itu, di sisi barat gundukan ditemukan kumpulan artefak yang berisi pecahan sendok perunggu berukuran panjang dan bagian-bagian kuali kuno.Namun, temuan terbesar berasal dari sebuah “kompleks pengorbanan yang kaya” yang disembunyikan di dalam lubang bulat dangkal di sisi barat salah satu gundukan pemakaman.Di dalam kompleks pengorbanan itu terdapat ratusan objek, termasuk hiasan pelindung kepala kuda dari perunggu, pelat pipi, dan besi kekang yang mewakili setidaknya selusin kekang kuda kuno.Para peneliti menemukan, pelindung kepala kuda terletak melintang di wajah kuda, sementara pelat pipi berada di bawahnya, di sisi mata.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-02 02:27