Soal Stunting, Gibran: Tantangan Masih Besar, Target Penurunan Jadi 14,2 Persen di 2029

2026-01-16 06:49:44
Soal Stunting, Gibran: Tantangan Masih Besar, Target Penurunan Jadi 14,2 Persen di 2029
JAKARTA, - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menyebut bahwa tantangan pengentasan stunting ke depannya tidak mudah karena pemerintah menargetkan angka prevalensi stunting menjadi 14,2 persen pada 2029.Hal itu disampaikan Gibran dalam Rapat Koordinasi Nasional Percepatan Penurunan Stunting di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta, Rabu ."Ke depan tantangannya masih besar Bapak-Ibu semua. Bapak Presiden menargetkan penurunan angka stunting di 2029 dan di angka 14,2 persen. Sudah ada 12 provinsi yang prevalensi stuntingnya di bawah nasional," ujar Gibran, Rabu.Sebelumnya, Gibran mengucapkan terima kasih atas kerja kolaboratif dari tingkat pusat sampai daerah sehingga angka prevalensi stunting pada 2024 turun menjadi di angka 19,8 persen.Baca juga: Gibran: Angka Stunting Turun Jadi 19,8 Persen di 2024“Capaian ini adalah capaian bersama, kerja-kerja kolaboratif dan sekali lagi dari pusat, daerah, kader-kader Posyandu, ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Ini saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras bapak ibu semua,” katanya.Dalam pemaparannya, Gibran menyebut, angka prevalensi stunting di 2024 itu turun sebanyak 357.000 anak dibandingkan tahun 2023.Sebab, angka prevalensi stunting pada 2023 sebesar 21,5 persen.Bahkan, Gibran mengatakan bahwa angka prevalensi stunting tersebut di bawah proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yakni 20,1 persen pada 2024.Baca juga: Angka Stunting Turun, Gibran: Capaian Bersama dari Pusat, Posyandu hingga Ibu-ibu PKKMenteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin juga mengatakan bahwa prevalensi stunting balita di Indonesia turun di bawah 20 persen, yakni mencapai 19,8 persen.Dia pun mengklaim bahwa penurunan pravelansi tersebut pertama kalinya dalam sejarah Indonesia."Untuk pertama kalinya dalam sejarah bangsa Indonesia, prevalensi stunting balita turun di bawah 20 persen mencapai angka 19,8 persen," kata Budi Gunadi dalam agenda Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 yang digelar di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu.Dalam kesempata itu, Budi Gunadi juga menyampaikan bahwa sebanyak 8.349 Puskesmas di Indonesia telah menerapkan program integrasi layanan primer."324.000 lebih kader kesehatan di seluruh posyandu telah dilatih dengan 25 keterampilan dasar," ujarnya.Menurut dia, sistem surveilans penyakit kini sudah lebih cepat dan terintegrasi dengan peningkatan kapasitas laboratorium kesehatan masyarakat yang akan terus dikembangkan di seluruh provinsi dan 514 kabupaten/kota.Percepatan dilakukan untuk meningkatkan mutu layanan rumah sakit dengan program pengampuan penyakit prioritas utama, yaitu kanker, jantung, stroke, ginjal, dan ibu dan anak."Saat ini, 29 provinsi sudah mampu melakukan operasi bedah jantung terbuka, 29 provinsi sudah mampu melakukan clipping aneurisma, dan 8 provinsi sudah mampu melakukan bypass otak,” kata Budi Gunadi.Baca juga: Menkes Sebut Angka Stunting Turun 20 Persen, Pertama Kali dalam Sejarah


(prf/ega)

Berita Lainnya

Berita Terpopuler

#3

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-01-16 05:10