Cerita Guru SLB di Mataram, Menebar Ilmu Lewat Bahasa Isyarat

2026-01-11 22:59:52
Cerita Guru SLB di Mataram, Menebar Ilmu Lewat Bahasa Isyarat
MATARAM, - Lita Wahyuni, seorang guru di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), baru saja merayakan Hari Guru Nasional bersama rekan-rekannya, kepala sekolah dan murid-murid berkebutuhan khusus.Lita, yang berusia 28 tahun, telah mengabdikan diri untuk mengajar anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak tahun 2020, ketika ia berusia 23 tahun."Karena saya linier pendidikan luar biasa dan lulus pun ngajarnya di SLB, alhamdulillah guru dibutuhkan banyak di sini sehingga tidak sulit mengajar di sini," ungkap Lita saat ditemui di SLBN 2 Mataram, Selasa .Dalam kesehariannya, Lita mengajar siswa sekolah dasar luar biasa (SDLB) dengan kekhususan tuna rungu, menggunakan bahasa isyarat.Baca juga: Keteguhan Nita, Guru yang Memberikan Pendampingan untuk Anak-anak Berkebutuhan KhususAwalnya, ia mengaku mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan siswa berkebutuhan khusus tersebut.Namun, setelah sering berinteraksi, Lita kini telah mahir menggunakan bahasa isyarat dan sering diundang sebagai penerjemah bahasa isyarat di berbagai instansi pemerintah."Menjadi guru SLB merupakan pengalaman yang seru dan menantang," kata Lita.Ia menjelaskan bahwa di SLB, ia berhadapan dengan berbagai macam karakter siswa yang masing-masing memerlukan penanganan khusus."Awalnya adalah sebuah tantangan bagi saya, tentang perilaku mereka yang tiba-tiba melempar sepatu atau tiba-tiba nangis di lapangan tanpa saya tahu sebabnya. Namun, alhamdulillah setelah 5 tahun, saya bisa cukup nyambung," tambahnya.Lita menekankan pentingnya memahami hambatan dan potensi masing-masing siswa."Kadang kita stres jika ada murid yang nakal, tetapi di situlah letak tantangannya. Bagaimana kita bisa menemukan potensinya dan cara mengeluarkan potensi itu," jelasnya.Baca juga: Bupati Pasuruan Akan Beri Sanksi Berat kepada Nur Aini sang Guru yang ViralDalam momen perayaan Hari Guru ini, Lita berharap para siswanya semakin semangat bersekolah dan orang tua tetap berkomitmen mendidik anak-anak mereka di rumah.Ia juga berharap masyarakat dapat lebih sadar dan inklusif terhadap disabilitas.Kepala SLBN 2 Mataram, Winarna, menjelaskan bahwa sekolah ini memiliki empat jenjang pendidikan yaitu TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB, dengan total 195 siswa.Para siswa memiliki lima kekhususan atau ketunaan, termasuk hambatan pendengaran dan komunikasi, hambatan intelektual, serta hambatan fisik dan motorik.


(prf/ega)