Pemkab Bandung Barat Salurkan Bantuan Beras kepada Warga Terdampak Longsor di Rongga

2026-02-05 14:19:51
Pemkab Bandung Barat Salurkan Bantuan Beras kepada Warga Terdampak Longsor di Rongga
- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat menyalurkan beras premium Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) Amanah kepada warga terdampak longsor dan pergerakan tanah di Kecamatan Rongga, Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat .Penyaluran tersebut dilakukan secara simbolis sebagai wujud kehadiran Pemkab Bandung Barat di tengah situasi darurat.Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi prioritas Pemkab Bandung Barat, khususnya saat terjadi bencana.“Ke depan, kita akan terus meningkatkan pelayanan kebencanaan dan ketahanan pangan agar masyarakat dapat lebih tenang dan terjaga,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin .Baca juga: Embung Jakarta untuk Banjir dan Ketahanan PanganJeje menyampaikan bahwa ia telah memberikan arahan kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat (KBB) untuk memastikan seluruh warga terdampak di Kecamatan Rongga mendapatkan bantuan pangan secara memadai.Lebih lanjut, Jeje mengungkapkan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan di Bandung Barat merupakan tanggung jawab semua pihak, bukan hanya pemerintah pusat dan daerah.Pasalnya, Bandung Barat merupakan daerah subur dengan cakupan wilayah yang luas, yakni terdiri dari 16 kecamatan dan 165 desa."Maka, upaya pemenuhan kebutuhan pangan merupakan tugas yang harus kita tangani bersama-sama," ucap Jeje.Baca juga: Bosscha Terganggu Polusi Cahaya, Pemkab Bandung Barat Siapkan Aturan BaruOleh karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjawab tantangan bencana serta menjaga ketahanan pangan daerah.Sementara itu, Kepala DKPP KBB Lukmanul Hakim menyatakan bahwa cadangan pangan daerah memiliki peran vital dalam menjamin akses pangan masyarakat pada kondisi darurat.“Cadangan pangan memiliki peran strategis dalam penyediaan pangan untuk penanganan bencana, kerawanan pangan, kondisi darurat, penanganan stunting dan pengendalian inflasi, serta menjaga stabilitas harga pangan di daerah,” jelasnya.Baca juga: Soal Ekspor Beras, Bapanas: Kita Penuhi Cadangan Pangan DuluLukmanul menekankan pentingnya memastikan kebutuhan pangan warga yang mengalami kondisi darurat pascabencana tetap terpenuhi. Hal ini juga berfungsi untuk menjaga stabilitas harga pasar.“Selain itu, (penting) juga meningkatkan akses pangan kelompok masyarakat rawan pangan transien, khususnya pada wilayah terisolir atau dalam kondisi darurat karena bencana maupun masyarakat rawan pangan kronis karena kemiskinan dan peningkatan gizi masyarakat,” ungkapnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-05 12:26