Gegana Polda Sterilisasi Gereja Katedral Jelang Natal, Anjing K9 Dilibatkan

2026-01-16 15:29:05
Gegana Polda Sterilisasi Gereja Katedral Jelang Natal, Anjing K9 Dilibatkan
Satuan Brimob Polda Metro Jaya melalui Unit Jibom dan KBR Detasemen Gegana bersama Unit K9 melaksanakan kegiatan sterilisasi di Gereja Katedral, Jakarta Pusat. Sterilisasi dilaksanakan menjelang perayaan ibadah Natal 2025.Adapun area yang menjadi fokus pemeriksaan meliputi altar, kursi jemaat dalam dan luar, area parkir, taman, Goa Maria, lorong samping kanan, auditorium, serta area toilet. Pemeriksaan dilaksanakan secara menyeluruh untuk memastikan tidak adanya ancaman bahan peledak maupun benda berbahaya lainnya.Berdasarkan hasil sterilisasi yang dilakukan, tidak ditemukan benda berbahaya. Situasi di lokasi terpantau aman dan terkendali."Pengamanan dan sterilisasi yang dilakukan merupakan bentuk komitmen kami untuk memastikan umat dapat melaksanakan ibadah Natal dengan rasa aman dan tenang. Kami hadir untuk memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat," kata Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Henik Maryanto dalam keterangannya, Selasa (23/12/2025).Henik mengatakan pengamanan rumah ibadah menjadi prioritas utama dalam Operasi Lilin Jaya 2025. Satbrimob Polda Metro Jaya, kata Henik, siap menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif serta menjamin keamanan dan kenyamanan masyarakat saat Natal dan Tahun Baru.Simak juga Video 'Pramono Resmikan Gereja HKBP Pondok Kelapa: Perizinan Makan Waktu 35 Tahun':[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-16 15:45