Petani Lahat di Tengah Fluktuasi Harga Kopi, antara Bertahan dan Menunggu Untung

2026-01-11 21:54:58
Petani Lahat di Tengah Fluktuasi Harga Kopi, antara Bertahan dan Menunggu Untung
LAHAT, - Harga kopi yang terus berfluktuasi membuat petani di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, memilih menahan stok hasil panen agar tidak merugi.Tantowi, salah satu petani kopi di Lahat, mengatakan tahun lalu harga kopi sempat menembus Rp 70.000 per kilogram. Saat itu ia memilih menjual seluruh hasil panennya karena dinilai sudah menguntungkan.Namun, tahun ini harga kopi robusta turun di kisaran Rp 60.000 per kilogram. Tantowi pun memilih menyimpan stok.“Kalau harga lagi turun, kami jual seadanya untuk makan saja. Tapi kalau naik, baru kami lepas banyak,” kata Tantowi, Selasa .Ia mengaku langkah itu dilakukan agar tidak rugi, sebab harga pupuk dan biaya tenaga kerja juga terus naik.Baca juga: Kopi Termahal di Dunia Dijual di Dubai, Hampir Rp 16,6 Juta per Cangkir“Jika tidak seperti itu kami rugi,” ujarnya.Sementara itu, Very, salah satu pengepul kopi di Lahat, menyebutkan saat puncak panen, produksi kopi yang masuk dan dikirim bisa mencapai 1.000 ton per bulan.Namun ketika pasar lesu, jumlah pengiriman turun drastis menjadi sekitar 100 ton, tergantung kondisi pasar dunia.“Untuk kirim ke eksportir di Lampung, kami ikut harga basis yang ditawarkan. Ada banyak eksportir di sana, kami menyesuaikan permintaan dan harga yang ditawarkan,” ujar Very, yang juga merupakan Mitra Usaha BRI.Ia menjelaskan, laju ekspor kopi dari petani lokal bergantung pada akses permodalan, termasuk dari perbankan.“Sejauh ini kami solid dengan BRI, mereka banyak membantu terutama untuk akses permodalan. Tanpa itu sulit jalan,” ujarnya.Menurut Very, pembelian kopi dari petani membutuhkan modal besar dan risiko tinggi.“Kami terpaksa menahan stok untuk dijual sampai harga membaik. Jika tidak, kerugian akan selalu ada,” tutur Very.Pemilik Kopi Bola Dunia, Rico Subiato atau yang akrab disapa Ko Cuncun, mengatakan hilirisasi dan ekspor kopi sangat penting untuk menjaga stabilitas harga di Sumatera Selatan.“Bila pelabuhan Tanjung Carat di Banyuasin terwujud, harga kopi bisa stabil dan ekonomi daerah bergerak lebih baik,” kata Cuncun.Ia menyebutkan, pabrik Kopi Bola Dunia sudah berdiri sejak 1978 dan merambah pasar lokal serta nasional. Seluruh biji kopi berasal dari wilayah Sumatera Selatan.“Selain Bola Dunia, kini ada juga merek Bukit Serelo yang lebih premium dan mengangkat nama kopi lokal dari Lahat,” ujarnya.


(prf/ega)